Tekankan Gotong Royong, Keteladanan Orang Tua, dan Persatuan Bangsa
Bandarlampung — Anggota DPRD Kota Bandar Lampung Fraksi PDI Perjuangan, Wiwik Anggraini, SH, mengajak masyarakat memperkuat pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan persatuan dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat di tengah derasnya arus globalisasi.
Pesan tersebut disampaikan Wiwik saat menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung, Minggu (18/10/2026).
Kegiatan yang menghadirkan narasumber Palgunadi dan Widya Rizki Eka Putri itu menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami sekaligus menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dalam sambutannya, Wiwik menegaskan, Pancasila tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep atau dihafalkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Semangat gotong royong dan kebersamaan adalah kunci menjaga keharmonisan sekaligus memperkuat persatuan,” tegas Wiwik di hadapan peserta PIP-WK.
Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia Kota Bandar Lampung itu menjelaskan, pengamalan Pancasila dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menjaga solidaritas antarwarga, peduli terhadap lingkungan, serta membangun kebiasaan saling membantu.
“Mulai dari menjaga solidaritas antarwarga, peduli terhadap lingkungan. Dari lingkungan yang solid dan bergotong royong, akan lahir bangsa yang kuat dan berdaulat,” paparnya.
Menurut Wiwik, penguatan nilai-nilai kebangsaan harus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak kehilangan semangat kebersamaan di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Sementara itu, narasumber Palgunadi menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun karakter dan menjaga nilai-nilai etika serta kemanusiaan. Ia menilai, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pendidikan karakter melalui keteladanan.
“Oleh karenanya, tugas orang tua untuk memberikan pendidikan keteladanan pada anak-anak. Orang tua harus memberikan contoh yang baik untuk anaknya,” kata Palgunadi.
Ia menekankan, pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui nasihat. Sikap, perilaku, dan tindakan orang tua dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dalam membentuk kepribadian anak.
Pada kesempatan yang sama, dosen Universitas Lampung, Widya Rizki Eka Putri, memaparkan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, Pancasila mengandung nilai luhur yang bersumber dari budaya, tradisi, dan kearifan bangsa Indonesia.
“Dalam Pancasila mengajarkan nilai-nilai budaya tradisi yang kaya dengan kearifan dan tata nilai luhur bangsa. Di antaranya, memanusiakan manusia, menanamkan nilai persatuan dan kesatuan bangsa, serta musyawarah untuk mufakat,” pungkasnya.
Widya menjelaskan, nilai kemanusiaan harus tercermin dalam sikap saling menghormati, sementara persatuan perlu dijaga dengan mengedepankan kepentingan bersama di atas perbedaan. Adapun musyawarah menjadi landasan dalam mengambil keputusan secara bijaksana dan mengutamakan kesepakatan.
Melalui kegiatan PIP-WK tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pengamalan Pancasila merupakan tanggung jawab bersama, dimulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal, hingga ruang publik.
Nilai-nilai tersebut juga menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan kepemimpinan dan pembangunan. Kebijakan yang berpijak pada Pancasila diharapkan berorientasi pada kepentingan masyarakat serta mendorong terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*).






