Jejak Panjang Pengabdian H. Muhammad Syae’an
BANDARLAMPUNG — Kabupaten Lampung Timur kehilangan salah satu putra terbaiknya. H. Muhammad Syae’an, tokoh perintis wilayah sekaligus peletak dasar pendidikan masyarakat, wafat pada usia 108 tahun, Jumat (30/1/2026) dini hari. Almarhum dikenal luas sebagai sosok yang mengabdikan hidupnya bagi masyarakat jauh sebelum Lampung berdiri sebagai provinsi.
Ayahanda dari politikus sekaligus jurnalis senior Himawan Ali Imron itu mengembuskan napas terakhir pukul 00.15 WIB. Kabar duka tersebut cepat menyebar dan meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat Lampung Timur yang mengenal kiprah panjang almarhum.
Nama H. Muhammad Syae’an lekat dengan sejarah awal wilayah Braja Slebah, ketika kawasan itu masih masuk Kabupaten Lampung Tengah. Di masa ketika hutan masih mendominasi bentang alam, jalan tanah bercampur onderlagh menjadi akses utama, dan kendaraan bisa dihitung dengan jari, almarhum hadir sebagai penggerak dan penghubung kehidupan warga.

Putranya, Himawan Ali Imron, pernah mengenang kisah perjuangan sang ayah yang berlatar belakang tentara. Dengan satu-satunya mobil jeep yang dimiliki, H. Muhammad Syae’an membantu warga dari desa ke desa—mengantar orang sakit, mendistribusikan kebutuhan sandang dan pangan, hingga membuka akses transportasi di wilayah yang nyaris terisolasi.
> “Jangan dibayangkan Lampung Timur seperti sekarang. Dulu masih banyak hutan, rumah sangat sedikit, jalan tanah, dan kendaraan bisa dihitung dengan jari,” tutur Himawan mengenang kisah sang ayah.
Tak berhenti pada upaya membuka keterisolasian wilayah, almarhum juga menorehkan jejak kuat di bidang pendidikan dan dakwah. Sebagai tokoh Muhammadiyah setempat, ia meyakini bahwa kemajuan daerah harus dimulai dari ilmu pengetahuan. Dari keyakinan itulah, H. Muhammad Syae’an mendirikan lembaga pendidikan di tengah keterbatasan akses sekolah.
Warisan tersebut masih berdiri hingga kini. SMP Islam YPI I Braja Slebah, di bawah naungan Yayasan Pusat Pendidikan Islam Lampung (YPPIL) yang ia dirikan, terus berkiprah mencerdaskan generasi muda di Desa Braja Harjosari, Kecamatan Braja Slebah.
Kepergian H. Muhammad Syae’an bukan sekadar kehilangan seorang tokoh, melainkan berakhirnya satu bab panjang sejarah perjuangan Lampung Timur. Jejak pengabdiannya akan terus hidup, tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat dan generasi penerus yang menikmati hasil perjuangannya.
Innalillahi wa innailaihi raji’un. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, menempatkannya di sisi terbaik-Nya, serta memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. (*).






