DI TEPI SUNGAI TAMIANG, NYAWA ITU KEMBALI

Oplus_16908288

Taruna Akpol Selamatkan Dio, Remaja 15 Tahun yang Hanyut

ACEH TAMIANG — Sore itu, Sungai Tamiang mengalir keruh. Air cokelat bergerak pelan namun menyimpan daya tarik maut. Di antara teriakan warga yang pecah di tepian, sesosok tubuh remaja terseret arus—perlahan menjauh dari daratan, semakin sulit digapai.

Namanya Dio Haikal Prayuda. Usianya baru 15 tahun.

Di saat jarak dan waktu nyaris bersekongkol melawan keselamatan, sekelompok Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) yang kebetulan berada tak jauh dari lokasi memilih bertindak tanpa ragu. Mereka tengah menuju Masjid Al Ikhsan Kuala Simpang untuk kegiatan trauma healing dan bakti sosial, Jumat (30/1/2026) sore, ketika jeritan itu terdengar.

“Anak hanyut… tolong…!”

Sekitar pukul 16.45 WIB, Brigadir Kepala Taruna Akpol Jason Mareno Hutagalung menjadi salah satu yang pertama menoleh ke arah sungai. Tanpa banyak bicara, langkah mereka berubah arah.

“Saat kami tiba, korban sudah hanyut sekitar 20 meter. Kami langsung turun ke sungai dan mengevakuasi korban ke daratan,” kata Jason, Minggu (1/2/2026).

Tubuh Dio diangkat dengan cepat. Nafasnya tersengal. Air sungai cokelat muncrat dari mulutnya. Kesadarannya naik-turun, seperti lilin yang hampir padam.

Di tepi sungai itu, pelajaran di ruang kelas Akpol berubah menjadi tindakan nyata. Para taruna bergantian memberi pertolongan pertama, menjaga Dio tetap sadar, memanggil namanya berulang-ulang—menahan nyawa agar tak kembali diseret arus.

“Fokus kami satu, korban harus tetap sadar,” ujar Jason.

Begitu kondisinya sedikit stabil, Dio segera dibawa menggunakan mobil menuju Biddokkes Polda Aceh. Di perjalanan, ia kembali muntah dua kali. Orang tuanya ikut mendampingi, sementara para taruna terus memantau dan menenangkan.

Sesampainya di pos kesehatan, Dio langsung ditangani. Pakaiannya diganti, tubuhnya diselimuti untuk mencegah hipotermia. Tak lama, ambulans datang. Rujukan dilakukan ke RSU Aceh Tamiang.

Sementara Dio berjuang di ranjang medis, taruna Akpol lainnya memilih tetap tinggal sejenak—menenangkan keluarga, menjelaskan kronologi, memastikan setiap detik penyelamatan tercatat jelas bagi tenaga medis.

“Kami hanya menjalankan nilai dasar kami sebagai calon anggota Polri: hadir dan membantu masyarakat dalam situasi darurat,” ucap Jason pelan.

Di IGD RSU Aceh Tamiang, kabar baik itu akhirnya datang. Dio mulai sadar. Matanya terbuka. Ia bisa merespons sekitar.

Barulah setelah memastikan korban mendapat penanganan lanjutan, para taruna berpamitan. Tak ada sorak. Tak ada panggung. Hanya rasa lega yang disimpan rapi.

Mereka adalah Muhammad Fahir, Jason Moreno Nanggala Hutagalung, Davindra Nur Oktafansyah, Tribrata Putra Sambo, Raihan Aprilianto, Dino Surya Wijaya, dan Boni Arga Satyaka Rineksa Sihombing—nama-nama yang sore itu memilih turun ke sungai, bukan berjalan terus ke masjid.

Di tepian Sungai Tamiang, satu pelajaran hidup tertinggal:
bahwa keberanian kadang datang tanpa rencana,
dan kemanusiaan selalu menemukan jalannya sendiri. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *