BANDARLAMPUNG — Langkah Mukhlis Basri melambat saat memasuki ruang perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM), Jumat (13/2/2026). Di hadapannya, seorang warga terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, diselimuti selimut biru, didampingi keluarga yang setia menunggu dengan penuh harap.
Mukhlis menghampiri, menyalami keluarga pasien, lalu menggenggam tangan sang pasien dengan hangat. Percakapan singkat namun penuh makna pun terjadi. Di ruangan itu, tak ada jarak antara wakil rakyat dan warga yang sedang berjuang melawan sakit.
“Kami datang untuk memberi semangat. Insyaallah, dengan perawatan yang baik dan doa dari keluarga, pasien segera pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” ujar Mukhlis Basri dengan nada lembut.
Suasana ruang rawat yang sederhana menjadi saksi empati seorang legislator terhadap rakyat yang diwakilinya. Ia mendengarkan cerita keluarga pasien tentang kondisi kesehatan, proses perawatan, hingga harapan mereka terhadap pelayanan rumah sakit.
Menurut Mukhlis, kehadiran langsung di tengah masyarakat yang sedang menghadapi cobaan kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan politik seorang wakil rakyat.
“Sebagai anggota DPR RI, saya ingin memastikan bahwa masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Rumah sakit daerah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi rakyat untuk berobat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan fasilitas dan tenaga medis di rumah sakit pemerintah, agar kualitas layanan terus meningkat.
“Kita di DPR akan terus mendorong agar anggaran kesehatan benar-benar tepat sasaran. Jangan sampai masyarakat merasa kesulitan saat membutuhkan layanan medis. Negara harus hadir, terutama bagi mereka yang sedang sakit,” lanjutnya.
Di sela kunjungan, Mukhlis menyampaikan doa dan harapannya.
“Semoga lekas sehat dan pulih kembali. Kami semua mendoakan yang terbaik,” ucapnya, seraya kembali menyalami keluarga pasien.
Bagi keluarga, kunjungan tersebut bukan sekadar formalitas. Kehadiran seorang wakil rakyat di ruang perawatan memberi dukungan moral dan rasa diperhatikan di tengah situasi sulit.
Kunjungan ini menjadi potret bahwa politik tak selalu tentang ruang sidang dan perdebatan kebijakan, tetapi juga tentang kehadiran nyata di tengah rakyat—di saat mereka paling membutuhkan perhatian dan penguatan. (*).






