Selamat Jalan Jenderal

Minggu siang itu, kabar duka menyebar cepat dari Jakarta ke seluruh penjuru negeri. Dari ruang perawatan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, berita yang tak pernah diharapkan akhirnya datang. Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu berpulang.

Pada pukul 14.03 WIB, mantan Menteri Pertahanan Republik Indonesia itu mengembuskan napas terakhir dalam usia 76 tahun. Indonesia kehilangan seorang prajurit, seorang negarawan, dan sosok yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk merah putih.

Bagi masyarakat Lampung, kabar itu terasa lebih personal. Ryamizard bukan sekadar tokoh nasional. Ia adalah putra daerah yang berhasil menembus puncak karier militer Indonesia, membawa nama Lampung ke panggung kehormatan bangsa.

Di berbagai sudut daerah, ucapan belasungkawa mengalir tanpa henti. Media daring dipenuhi kabar duka. Grup-grup WhatsApp masyarakat Lampung ramai dengan doa dan kenangan tentang sosok yang dikenal tegas, sederhana, dan memiliki komitmen kuat terhadap negara.

Perjalanan hidup Ryamizard adalah kisah panjang tentang pengabdian. Dari seorang prajurit muda hingga menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, ia menapaki setiap jenjang dengan disiplin dan dedikasi tinggi. Ketika dipercaya memimpin Angkatan Darat, namanya identik dengan ketegasan, loyalitas, dan keberanian mengambil keputusan demi kepentingan bangsa.

Puncak pengabdian berikutnya datang ketika ia dipercaya menjabat Menteri Pertahanan Republik Indonesia periode 2014–2019. Di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah, Ryamizard menjadi salah satu figur sentral dalam memperkuat fondasi pertahanan nasional.

Baginya, pertahanan bukan semata urusan senjata dan alutsista. Ia berkali-kali menegaskan pentingnya kesadaran bela negara sebagai benteng utama Indonesia. Gagasan itu menjadi salah satu warisan pemikirannya yang masih dikenang hingga kini.

Namun di balik seragam dan jabatan tinggi yang pernah disandangnya, Ryamizard tetap dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan masyarakat. Banyak warga Lampung mengenangnya sebagai sosok yang tidak pernah melupakan tanah kelahirannya. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu menunjukkan kebanggaannya sebagai putra Lampung yang tumbuh dan besar bersama nilai-nilai perjuangan.

Kini, perjalanan panjang itu telah sampai pada garis akhir.

Tak ada lagi suara tegas yang mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa. Tak ada lagi langkah seorang jenderal yang mengabdikan hidupnya untuk negeri. Yang tersisa adalah jejak, teladan, dan warisan pengabdian yang akan terus hidup dalam ingatan rakyat Indonesia.

Kepergian Ryamizard bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar TNI, tetapi juga kehilangan bagi bangsa yang pernah menikmati dedikasi dan pengorbanannya.

Indonesia berduka. Lampung berduka.

Selamat jalan, Jenderal.
Terima kasih atas pengabdianmu untuk negeri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *