
EDITORONLINE, TULANGBAWANG – Puskesmas Tuba I melaksanakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2020. Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan Protokol Kesehatan dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).
Kepala Puskesmas Tuba I, Hi.Arnan Jaya, mengatakan, meski di tengah Pandemi Covid-19 saat ini, UKM seperti Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), Pemberian Obat Cacing, Penjaringan Kesehatan Anak sekolah untuk siswa baru tetap dilaksanakan dengan AKB.
“Kegiatan dilakukan tetap dengan memperhatikan Protokol Kesehatan, dan dilaksanakan oleh masing-masing pemegang program. Sebelum pelaksanaan Petugas Kesehatan Lingkungan memastikan tempat yang akan dijadikan tempat pelaksanaan dipastikan sudah didesinfektan dahulu,” terang Arnan, Kamis (10/09/2020).
Selain itu, lanjut Arnan, peserta yang akan dilakukan pemeriksaan dan imunisasi di lakukan pengukuran suhu dan memakai masker, begitu juga dengan petugas, memakai APD sesuai levelnya.
Kegiatan dilakukan di sekolah dan di kampung-kampung wilayah Puskesmas Tuba I. Untuk itu, butuh inovasi dan penyesuaian, dimana biasanya masyarakat yang akan dijadikan sasaran kegiatan itu berkumpul menjadi satu di posyandu atau di Balai desa.
“Maka untuk mengurangi terjadinya penumpukan sasaran, kegiatan tersebut dilakukan dibeberapa tempat, sehingga sasarannya menjadi lebih sedikit, tetapi ditempat yang berbeda beda, ada yang dilakukan dimasing-masing RT, ada yang di masing-masing dusun, ataupun di rumah-rumah warga. Seperti kegiatan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular, Imunisasi, ataupun Kelas ibu dan Kelas Balita,” papar Kepala Puskesmas Tuba I.
Menurut Arnan, imunisasi merupakan proses untuk membuat seseorang menjadi imun atau kebal terhadap suatu penyakit. Proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin yang merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tersebut.
“Imunisasi BIAS yang diadakan dua kali dalam setahun dan dilakukan secara serentak di seluruh kota di Indonesia,” jelasnya.
Program imunisasi BIAS ini dilakukan untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak usia SD terhadap penyakit campak, difteri dan tetanus.
Ia berharap, para guru dan orangtua perlu memberikan dukungan jika anaknya mendapat imunisasi di sekolah oleh petugas Puskesmas setempat.
“Namun, hanya 3 imunisasi wajib berulang yang akan diberikan pada saat BIAS, antara lain Imunisasi campak, Imunisasi difteri tetanus (DT), dan Imunisasi tetanus (Td),” ulasnya.
Pemerintah sangat berharap jika imunisasi BIAS ini dilakukan secara rutin. Mengingat banyaknya virus sekarang ini yang seringkali menyerang anak-anak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun.
Instansi pendidikan setara SD sampai SMP menjadi tempat yang rentan penyebaran virus ini. Namun, sekolah juga menjadi tempat paling strategis dalam mencegah penyebaran virus-virus ini.
Selain itu, program imunisasi gratis ini juga mendapat dukungan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF).
Tidak hanya itu saja, secara global pun upaya memerangi wabah campak dan Rubella dapat mencapai pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Pemerintah juga berkomitmen untuk mendukung Indonesia dalam kampanye imunisasi ini sangat penting, agar wabah campak dan cacat bawaan saat lahir akibat Rubella dapat dicegah. (tri)






