Lampung Barat, Koran Editoronline.co.id – Air sebagai kebutuhan utama kehidupan, seharusnya dapat terpenuhi secara kuantitas, kualitas, terjangkau, dan kontinu. Namun masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan air bersih yang layak, terutama masyarakat berpenghasilan rendah di pedesaan dan pinggiran kota, tak terkecuali di Lampung Barat.
Program Pamsimas adalah salah satu program andalan Pemerintah di dalam penyediaan air bersih dan sanitasi bagi masyarakat pedesaan dan pinggiran kota melalui pendekatan berbasis masyarakat.
Namun, proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Pekon Sukajaya, Kecamatan Pagar Dewa, Kabupaten Lampung Barat (Lambar) mangkrak tak berfungsi.
Proyek tersebut merupakan proyek Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lampung Barat tahun 2019, dengan menelan anggaran sebesar Rp824.926.000 yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2019.
Dari keterangan warga setempat yang juga merupakan pemilik lahan proyek Spam Pamsimas, Azwan mengatakan, jika mulai dari dilakukannya pengerjaan hingga tahun 2020 bulan Oktober akhir, proyek tidak pernah selesai atau tidak berfungsi.
“Dari awal mulainya bulan Juni 2019 hingga sekarang Oktober 2020, proyek tersebut tidak berfungsi, karena tidak ada airnya,” ujar Azwan saat ditemui Koran Editor dirumahnya, Kamis (29/10/2020).
Lebih lanjut, Azwan menjelaskan, karena tidak pernah berfungsi akibat tidak adanya air, maka dirinya bersama warga lain tetap menggunakan saluran air swadaya yang bersumber dari sungai terdekat.
“Kita sangat bersyukur adanya pembangunan Spam Pamsimas ini, namun karena tidak kunjung selesai dan tidak berfungsi, maka kita terpaksa menggunakan saluran air swadaya sendiri dari sungai terdekat,” jelasnya.
Kemudian, Azwan berharap, pembangunan sumber air tersebut dapat segera berfungsi, sehingga masyarakat dapat menikmati kemudahan akses dalam mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
“Tentu kami masyarakat berharap proyek ini cepat selesai dan berfungsi, karena kami masyarakat sangat membutuhkannya untuk keperluan sehari-hari. Ini sudah setahun lebih, masa dibiarkan begitu saja tidak berfungsi,” harap dia.
Setelah ditelusuri awak media Koran Editor di lapangan, nampak tangki penampung air kosong hingga dihuni sarang laba-laba, kemudian terlihat adanya pipa paralon warga setempat yang digunakan untuk mendapatkan air dari sungai terdekat. (Ade Irawan)






