Daerah  

ADA PAPAN LARANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN, TAPI SAMPAH TETAP MENUMPUK

PRINGSEWU – Entah apa yang ada dalam pikiran masyarakat terkait masalah sampah. Pasalnya, sudah terpasang papan nama larangan membuang sampah sembarangan, tapi tetap saja larangan tersebut tidak digubris masyarakat tetap ngasal membuang sampah ditempat tersebut.

Demikian disampaikan oleh Ponidi salah seorang warga Gadingrejo saat melintas dijalan raya Pemkab Pringsewu, tepatnya di Pekon Klaten saat dimintai tanggapannya terkait masalah sampah yang ada dipinggir sungai tersebut. Menurutnya, sudah jelas ada papan nama larangan buang sampah sembarangan tetap saja masyarakat membandel. Untuk saat ini, dalam menangggapi masalah pembuangan sampah sembarangan sudah menjadi pola perilaku di masyarakat yang “biasa” karena hampir semua orang melakukannya. Secara tidak sadar maka perilaku tersebut suatu
bentukan perilaku yang terinternalisasi di dalam pikiran bahwa membuang sampah sembarangan bukanlah hal yang salah.” Dan kalau sudah begini kita mau menyalahkan siapa. Apa memang urat kemaluannya oknum yang sengaja membuang sampah sembarang tersebut
sudah putus atau memang buta huruf tidak bisa membaca papan larangan membuang sampah ditempat itu,” katanya, Kamis (23/3).
Lebih lanjut Ponidi mengatakan, sepertinya budaya malu membuang sampah harus dihidupkan kembali untuk mencegah pencemaran lingkungan khususnya di wilayah sekitar aliran sungai. Jika sudah tercemar maka akan berdampak pada ekosistem dan pencemaran udara. Namun sayang, budaya malu itu sekarang sudah terkikis, tua-muda, laki-laki perempuan seperti tidak merasa bersalah membuang sampah seenaknya saja.” Untuk menghidupkan budaya tersebut, kita memang butuh dukungan semua pihak khususnya dari pemerintah setempat serta terutama masyarakat itu sendiri betapa pentingnya memiliki budaya malu,” ujarnya.
Ponidi menambahkan, kebiasaan  buruk
membuang sampah sembarangan tanpa disadari masyarakat menganggap hal yang biasa. Namun faktanya membuang sampah asal-asalan akan mengakibatkan dampak  negatif kepada lingkungan sekitar. Selain itu juga, Karena adanya pengaruh lingkungan yang dapat membentuk perilaku seperti itu tanpa disadari masyarakat itu sendiri.”Perlu diingat, cara seseorang manusia belajar yang paling mudah adalah dengan imitasi dan sebagian besar masyarakat belajar suatu perilaku adalah dengan imitasi itu sendiri sehingga ikut-ikutan dengan pola lingkungannya,” pungkasnya. (top)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *