MESUJI-Sebelum di bubarkan Aparat keamanan dengan melakukan pencopotan papan nama dan menghentikan Aktifitas di dalam bangun yang mirip dengan pondok pesantren,keberadaan Khilafatul Muslimin di Desa Margojadi,Kecamatan Mesuji Timur,Kabupaten Mesuji tersebut sebenarnya sudah mendapatkan penolakan dari warga sekitar.
Hal ini di ungkapkan Siswoyo(54) warga setempat yang juga menjabat sebagai Satuan Perlindungan Masyarakat(Satlinmas) kepada wartawan yang coba menyambangi kawasan Bangunan milik jamaah tersebut.
“Dari awal pembagunan bangunan mirip pondok pesantren ini sebenarnya sudah di tolak masyarakat,dengan membuat surat penolakan yang di tanda tangani ratusan masyarakat desa,tapi pengelola tetap tidak menghiraukan dan tetap melakukan pembagunan,”terang pria yang akrab di sapa siwok,jumat(17/06/22)
Karena lanjutnya penolakan warga bukan tidak berdasar ini karena sejak awal beberapa kejanggalan sudah terlihat misalnya keengganan jamaahnya mengibarkan bendera merah putih,tidak ikut dalam kegiatan berdemokrasi di berbagai tingkatan.
“Ga mau meraka itu kalau di minta memasang Bendera merah putih,apa lagi kalau pilihan baik pileg,pilkada,pilkades,pilihan RK meraka ga mau milih tambahnya.
Ditanya terkait ajaran yang khilfatul muslimin yang dia ketahui? Siwok mengatakan pada dasarnya ajaran agama sama dengan umumnya,hanaya saja saat azan subuh dari masjid khilafatul Muslimin terdengar dua kali.
“Terkait ajaran islam sepertinya sih sama,yang beda azan subuh mereka(Khilafatul Muslimin-red) terdengar Dua kali,”tandasnya.
Untuk di ketahui,berdasarkan pantauan wartawan media ini di lokasi bangunan mirip pondok pesantren milik Khilafatul Muslimin tersebut saat ini tidak lagi berpenghuni,berdasarkan keterangan warga,penghuni sudah meninggalkan baguna tersebut sejak beberapa waktu lalu.
“Sudah kosong mas,terakhir semalam,satu truk kayaknya,”terang salah satu warga kepada wartawan.(apr)






