Koraneditor.id, Pringsewu – Kelompok Wanita Tani (KWT) di Pringsewu yang tak produktif lagi akan dimonitoring dan evaluasi. Apalagi KWT yang sudah pernah mendapatkan bantuan baik dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten menjadi fakum itu sangat disayangkan.
Demikian disampaikan oleh Awaluddin Nur Kabid pada Dinas Ketahan Pangan Kabupaten Pringsewu saat dimintai keterangan terkait banyaknya KWT di Pringsewu yang tidak berjalan optimal (Mati Suri). Menurutnya, tujuan dari monitoring adalah manjaga agar kebijakan yang sedang diimplementasikan sesuai dengan tujuan dan sasaran. Menemukan kesalahan sedini mungkin sehingga mengurangi risiko yang lebih besar. Melakukan tindakan modifikasi terhadap kebijakan apabila hasil monitoring mengharuskan untuk itu.
Awaluddin mengatakan, bahwa KWT itu sendiri sebagai jawaban bagi kebutuhan kelompok dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan lestari dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, pelestarian tanaman pangan untuk masa depan serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”Jangan sampai KWT yang sudah menerima bantuan untuk kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) tidak maksimal yang akhirnya terkesan mubazir. Maka dari itu kita akan melakukan monev mencari masalah apa yang dihadapi oleh KWT tersebut,” katanya, Jumat (23/6/2023).
Awaluddin menegaskan, KWT disamping sebagai wadah untuk pemenuhan pangan dan gizi keluarga diharapkan mampu untuk meningkatkan keejahteraan anggotanya berupa hasil tani dari usaha bersama kelompok. Selain itu juga mampu untuk mengajak warga masyarakat untuk bergabung dan mendirikan kelompok baru.”KWT itu merupakan salah satu lembaga atau organisasi yang positif utuk mingkatkan kesejahteraan keluarga. Jadi dalam wadah tersebut jangan ada ego-egoan kalau bisa bersama-sama membesarkan lembaga itu sendiri,” ujarnya.
Lebihlanjut Awaluddin mengharapkan, bagi KWT yang sudah menerima manfaat, untuk dapat dioptimalkan kembali sebagaimana fungsinya. Seperti lahan kembali dikelola untuk menanam sayuran, kolam ikan difungsikan kembali, dan rumah bibit dikembalikan untuk menyemai bibit bukannya buat tempat jemuran.”KWT itu sendiri kan sifatnya organisasi dengan tujuan memaksimalkan mungkin dengan inovasi-inovasi pertanian dan olahan makanan guna mendapatkan penghasilan tambahan keluarga,” pungkasnya.






