Pesawaran — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan Indonesia kembali mencapai swasembada pangan, khususnya beras, hanya dalam waktu satu tahun pemerintahan. Capaian nasional tersebut sejalan dengan kinerja sektor pertanian Provinsi Lampung yang mencatat kenaikan produksi padi hampir 15 persen sepanjang 2025.
Pengumuman swasembada pangan disampaikan Presiden Prabowo saat Panen Raya Nasional yang dipusatkan di Karawang, Jawa Barat, dan diikuti secara virtual oleh pemerintah daerah se-Indonesia, Rabu (7/1/2026). Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengikuti kegiatan tersebut dari halaman Balai Desa Kutoarjo, Kabupaten Pesawaran.
“Dalam satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita tidak lagi tergantung pada bangsa-bangsa lain,” ujar Presiden Prabowo dalam arahannya.
Presiden menegaskan, capaian swasembada pangan ini jauh melampaui target awal empat tahun. Pemerintah juga terus melakukan penegakan hukum di sektor sumber daya alam dengan menyita sekitar 4 juta hektare kebun sawit ilegal dan menargetkan tambahan 4–5 juta hektare pada 2026 untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.
Pada kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas kontribusinya mewujudkan swasembada pangan. Dalam laporannya, Amran menyebut stok beras nasional mencapai 3,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah dan melampaui capaian era swasembada 1984.
“Kalau ada yang memainkan harga pangan, lebih baik izinnya dicabut daripada mengganggu 286 juta rakyat,” tegas Amran, seraya menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) nasional kini berada di angka 125 dan ekspor pertanian meningkat 33 persen.
Usai kegiatan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan bahwa Lampung menjadi salah satu daerah penopang utama swasembada pangan nasional. Produksi padi Lampung pada 2025 naik dari 2,7 juta ton menjadi lebih dari 3,2 juta ton.
“Alhamdulillah produksi kita naik hampir 15 persen. Tahun 2026 kami targetkan bisa naik lagi 15 sampai 20 persen melalui optimalisasi indeks pertanaman dan penerapan pupuk organik cair,” ujar Gubernur Mirza.
Ia juga menegaskan komitmen perlindungan lahan pertanian dengan menginstruksikan seluruh bupati untuk menginventarisasi dan mendaftarkan Lahan Baku Sawah (LBS) guna mencegah alih fungsi lahan. Selain itu, Lampung menjalin kerja sama strategis dengan Jawa Tengah melalui pertukaran komoditas pangan.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung Elvira Umihanni menyebut 2025 sebagai tahun bersejarah bagi pertanian Lampung. Berdasarkan data BPS, produksi padi Lampung mencapai 3,2 juta ton dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA), tertinggi sepanjang sejarah.
Produksi beras Lampung tercatat 1,84 juta ton atau naik 14,65 persen, dengan kontribusi sektor pertanian mencapai 28,38 persen terhadap PDRB Lampung. NTP Lampung juga menembus angka 129,33, menandakan meningkatnya kesejahteraan petani.
Dengan capaian tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung optimistis memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan nasional, sejalan dengan agenda swasembada pangan dan ketahanan ekonomi Indonesia. (*)






