Jelang Ramadan, Gubernur Mirza Perketat Distribusi Pangan, Inflasi Jadi Fokus Utama

Bandarlampung — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah daerah memperketat pengawasan distribusi bahan pokok menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. Langkah ini ditempuh untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat di tengah lonjakan konsumsi tahunan.

Instruksi tersebut disampaikan Gubernur saat memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Selasa (10/2/2026), yang dihadiri Forkopimda, bupati/wali kota, serta pimpinan instansi vertikal.

Gubernur Mirza menegaskan, kenaikan harga sekecil apa pun berdampak besar jika dikalikan jumlah penduduk Lampung.

“Kelihatannya cuma naik Rp5.000 atau Rp10.000. Tapi kalau cabai naik Rp10.000 dikali 9,5 juta penduduk, itu nilainya bisa puluhan hingga ratusan miliar rupiah yang diambil dari kantong masyarakat,” tegasnya.

Ia mencontohkan konsumsi daging ayam di Lampung yang mencapai 3–4 juta ekor per bulan. Kenaikan harga sedikit saja, menurutnya, akan menggerus alokasi belanja rumah tangga untuk kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan.

Sebagai daerah penghasil pangan, Gubernur meminta stabilitas harga dijaga dengan memaksimalkan pasokan lokal. Produksi beras, cabai, bawang, daging, dan telur diminta aman hingga pasca-Lebaran.

“Prioritasnya komoditas yang ada di Lampung. Jaga pasokan dari dalam daerah, baru kita ambil dari luar jika kurang,” ujarnya.

Gubernur juga mengingatkan TPID agar tidak bekerja reaktif. Intervensi pasar tanpa pembenahan tata niaga dan distribusi dinilai hanya akan melelahkan pemerintah tanpa solusi jangka panjang.

Dari sisi penegakan hukum, Dirreskrimsus Polda Lampung Kombes Pol Heri Rusyaman memastikan Satgas Saber Pangan telah dibentuk untuk menindak tegas penimbunan, spekulasi, dan kartel harga.

“Kami sebut Saber atau Sapu Bersih. Tidak ada pengecualian. Kenaikan harga di atas 5 persen dari HET akan kami tindak,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto menyampaikan inflasi Lampung secara tahunan masih terkendali, namun komoditas volatile food seperti cabai dan bawang perlu diwaspadai akibat persoalan distribusi dan waktu tanam.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Lampung Mulyadi Irsan mengungkapkan stok beras, jagung, daging ayam, dan telur dalam kondisi aman dan surplus. Namun, bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit menjadi perhatian jelang Ramadan.

Kepastian pasokan juga ditegaskan Pemimpin Wilayah Bulog Kanwil Lampung Rindo Safutra, dengan cadangan beras pemerintah mencapai 170.825 ton, cukup hingga akhir tahun.

Menutup rapat, Gubernur Mirza menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor tanpa ego kelembagaan.

“Tujuan kita satu, masyarakat Lampung bisa beribadah dengan tenang, harga terkendali, pasokan terjamin, dan ekonomi tetap berjalan,” pungkasnya. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *