‘Telaga Sewu’ Telanjangi Pemkab, Jalan Rusak Purbolinggo Baru Ditambal Setelah Viral

Warga Purbolinggo Sindir Lewat Wisata Dadakan, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur Gerak Cepat Usai Disorot Publik

Lampung Timur – Jalan rusak menganga di Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, akhirnya ditambal setelah viral di media sosial. Sebelumnya, warga setempat melancarkan aksi sindiran dengan menyulap lubang besar yang tergenang air menjadi wahana wisata dadakan bertajuk “Telaga Sewu”.

Video yang memperlihatkan anak-anak bermain di “kolam” tengah jalan itu langsung menyita perhatian publik. Warga bahkan memasang papan bertuliskan Grand Opening Telaga Sewu Purbolinggo Lampung Timur sebagai simbol protes atas kondisi jalan yang disebut-sebut lama tak tersentuh perbaikan.

Suprayitno, warga setempat, menyebut aksi tersebut sebagai bentuk kekecewaan sekaligus solidaritas masyarakat.

“Kami sudah terlalu lama menunggu perbaikan. Ini bentuk aspirasi masyarakat yang merasa tidak terjamah pembangunan,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

Ia menegaskan, kerusakan jalan dari Purbolinggo hingga Bumi Jawa semakin meluas dan membahayakan pengguna jalan. Bahkan, akses menuju Kota Metro dan Sukadana terancam lumpuh bila tak segera diperbaiki.

“Kami pembayar pajak aktif, tapi jalannya rusak terus. Panjang sekali dan berlubang-lubang,” katanya.

Warga lain, Rosi, menyindir bahwa respons pemerintah baru terlihat setelah persoalan itu viral.

“Mengadu sudah berkali-kali, tapi ya kayaknya harus diviralkan dulu baru ada tindakan,” ucapnya.

Respons Cepat Setelah Sorotan

Menanggapi sorotan publik, Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyatakan pihaknya langsung memerintahkan dinas terkait melakukan penimbunan sementara.

“Hari ini kami respons cepat. Lubang-lubang di jalan tersebut langsung kami tutupi,” tegasnya, Minggu (15/2/2026).

Ela juga menyebut ruas jalan tersebut sebenarnya sudah masuk dalam anggaran pembangunan 2026 dan akan diperbaiki bertahap sesuai prioritas.

Meski demikian, aksi “Telaga Sewu” telah menjadi simbol kritik sosial warga terhadap lambannya penanganan infrastruktur. Di sisi lain, pemerintah daerah mengapresiasi kreativitas masyarakat dan media yang dinilai membantu menyampaikan informasi kondisi di lapangan.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di era digital, keluhan warga bisa cepat menggema—dan respons pun dituntut tak lagi lama. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *