Kebangkitan Nasional Dimulai dari Pendidikan dan Integritas

Bandarlampung — Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 dimaknai sebagai panggilan moral untuk membangkitkan kembali semangat persatuan, integritas, dan pengabdian demi masa depan Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.

Hal itu disampaikan Akademisi FH Unila, Dr. Budiyono dalam refleksi Hari Kebangkitan Nasional 2026 yang menyoroti pentingnya kebangkitan moral dan intelektual di tengah tantangan zaman modern.

Menurut Budiyono, bangsa Indonesia saat ini memang tidak lagi menghadapi penjajahan fisik, namun menghadapi tantangan besar berupa krisis integritas, melemahnya semangat persatuan, ketimpangan pendidikan, disrupsi teknologi, hingga lunturnya kepedulian sosial akibat arus individualisme.

“Kebangkitan nasional di era modern harus dimulai dari kebangkitan moral, kebangkitan intelektual, dan kebangkitan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya, Rabu (20/5).

Ia menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk masa depan bangsa. Kampus, kata dia, tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar gelar dan prestasi akademik, tetapi juga harus menjadi ruang lahirnya karakter, integritas, keberanian berpikir, dan kepedulian sosial.

Budiyono menegaskan mahasiswa harus tampil sebagai pelaku perubahan, sementara dosen dan pimpinan perguruan tinggi dituntut menjadi penjaga nilai dan pembentuk peradaban.

Sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Lampung, Budiyono meyakini bahwa kebangkitan sebuah bangsa selalu berawal dari kebangkitan dunia pendidikan.

Menurutnya, pendidikan yang dibangun dengan integritas dan semangat kolaborasi akan melahirkan generasi yang adaptif, inovatif, dan memiliki kepedulian sosial kuat.

“Universitas Lampung harus terus tumbuh menjadi kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu melahirkan generasi berkarakter dan memberi solusi bagi masyarakat,” katanya.

Dalam refleksinya, Budiyono juga mengingatkan bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari pesimisme, melainkan dari keberanian untuk bermimpi, bekerja, dan menjaga harapan di tengah keterbatasan.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bangkit bersama dalam ilmu pengetahuan, integritas, kolaborasi, dan semangat pengabdian kepada negeri.

“Masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling tulus mengabdi untuk negeri,” tegasnya.

Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa semangat Kebangkitan Nasional harus terus dihidupkan melalui pendidikan, persatuan, dan komitmen membangun bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *