Sutardji Puji Isbedy, ‘Puisi 68’ Kukuhkan Jejak Penyair Lampung

Oplus_16908288

JAKARTA – Peluncuran buku Puisi 68 karya penyair Lampung Isbedy Stiawan ZS di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Rabu (15/7), menjadi panggung penghormatan bagi salah satu penyair paling produktif di Indonesia. Acara itu semakin istimewa dengan kehadiran Sutardji Calzoum Bachri, yang dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia, sekaligus memberikan testimoni atas perjalanan kepenyairan Isbedy.

Dalam sambutannya, Sutardji menilai Isbedy sebagai penyair yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kualitas karya. Menurutnya, kemampuan tersebut merupakan hal yang langka di dunia sastra Indonesia.

“Isbedy memang sangat produktif, tetapi kualitas puisi-puisinya tetap terjaga. Itu tidak banyak dimiliki penyair lain,” ujar Sutardji.

Penyair legendaris penulis O, Amuk, Kapak itu juga menilai kecintaan Isbedy terhadap puisi telah membentuk kesetiaan pada kata-kata, sehingga mampu melampaui berbagai tantangan yang lazim dihadapi para penyair.

Isbedy mengungkapkan, hubungannya dengan Sutardji telah terjalin sejak Forum Penyair Indonesia 1987. Saat itu, Sutardji menyebut dirinya sebagai salah satu “penyair masa depan”. Tiga dekade lebih berlalu, predikat tersebut dinilai terbukti dengan konsistensi Isbedy yang terus berkarya hingga kini.

Peluncuran buku yang digelar bertepatan dengan peringatan usia ke-68 Isbedy itu juga dirangkai dengan bincang karya menghadirkan Nanang R. Supriyatin dan dimoderatori Fitri Angraini. Sekitar 65 tokoh sastra dan pegiat literasi hadir dalam acara tersebut.

Sejumlah penyair turut memberikan testimoni. Fatin Hamama menyebut Isbedy sebagai penyair sekaligus pembaca puisi yang mumpuni, sementara Riri Satria menilai sosok Isbedy tidak pernah berjarak dengan generasi penyair muda.

Menurut Riri, julukan “Paus Sastra Lampung” yang disematkan kepada Isbedy bukan hanya karena produktivitasnya menulis, tetapi juga dedikasinya membangun ekosistem sastra melalui komunitas Lamban Sastra.

“Beliau bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga merawat ruang tumbuh bagi sastra dan membimbing penulis muda,” ujar Riri.

Acara ditutup dengan pembacaan puisi oleh sejumlah sastrawan dari berbagai daerah, menjadikan peluncuran Puisi 68 bukan sekadar peresmian buku, melainkan perayaan panjang dedikasi Isbedy Stiawan ZS dalam menjaga denyut sastra Indonesia. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *