WARGA SUKORAHAYU HIBAHKAN TANAH TANPA KOMPENSASI, DORONG TANGGUL KONFLIK GAJAH SEGERA DIBANGUN

LAMPUNG TIMUR — Dukungan masyarakat terhadap pembangunan tanggul pembatas untuk mengurangi konflik manusia dan gajah Sumatra menguat di Desa Sukorahayu, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur.

Tak sekadar mendukung, warga bahkan menyatakan kesediaan menghibahkan lahan tanpa meminta ganti rugi maupun kompensasi agar pembangunan tanggul segera direalisasikan.

Kepala Desa Sukorahayu, Afria Syahdi, mengatakan pemerintah desa bersama para petani telah sepakat mendukung pembangunan tanggul tersebut. Masyarakat justru berharap pengerjaan segera dimulai dan dituntaskan.

“Kalau dari kami, desa dan para petani sudah sepakat. Kami malah minta supaya progres pembangunannya segera jalan dan cepat diselesaikan,” kata Afria.

Afria sekaligus meluruskan informasi sebelumnya yang menyebut pembangunan tanggul menyebabkan akses masyarakat menuju sawah atau kebun terganggu. Menurutnya, informasi tersebut tidak sesuai kondisi di lapangan.

“Kalau yang diberitakan akses warga terhambat ke sawah atau kebun itu tidak benar. Salah besar kalau dibilang begitu,” tegasnya.

LAHAN 20 X 600 METER SIAP DIHIBAHKAN

Afria mengungkapkan, masyarakat bahkan telah menyiapkan lahan untuk mendukung pembangunan tanggul. Lahan tersebut diperkirakan memiliki ukuran sekitar 20 meter x 600 meter.

“Justru masyarakat mendukung. Warga siap menghibahkan tanahnya untuk tanggul ini,” ujarnya.

Menurut Afria, kesiapan warga tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tanggul sangat dinantikan. Masyarakat berharap persoalan lahan tidak menjadi hambatan dalam pelaksanaan proyek.

“Lebarnya sekitar 20 meter, panjangnya kurang lebih 600 meter. Itu warga siap hibahkan supaya pembangunan tanggulnya bisa segera direalisasikan,” katanya.

Pemerintah desa dan warga juga siap membuat surat pernyataan terkait kesediaan hibah lahan.

“Kami juga siap membuat surat pernyataan dari warga dan perangkat desa bahwa tanahnya memang siap dihibahkan,” ujar Afria.

Ia menjelaskan, kondisi tanah di wilayah tersebut yang sebagian berupa lahan gambut juga perlu menjadi perhatian. Tanah harus terlebih dahulu ditimbun dan diperkeras sebelum pembangunan tanggul dilakukan.

“Tanahnya di sini sedikit gambut, jadi memang perlu ditimbun dan dikeraskan dulu. Tidak bisa langsung begitu saja dibangun,” jelasnya.

RELA TANPA KOMPENSASI

Dukungan paling konkret datang dari warga. Rahmad, salah seorang warga Sukorahayu, mengaku telah menghibahkan tanah miliknya untuk kepentingan pembangunan tanggul.

Ia menegaskan tidak mempersoalkan kompensasi. Baginya, yang lebih penting adalah tanggul segera berdiri sehingga konflik gajah yang selama ini mengancam lahan pertanian dapat dikurangi.

“Kalau saya pribadi, tanah sudah saya hibahkan untuk pembangunan tanggul,” kata Rahmad.

“Saya tidak menuntut ganti rugi atau kompensasi. Yang penting tanggulnya bisa selesai dan konflik gajah di sini bisa teratasi,” tegasnya.

Rahmad mengatakan, gangguan gajah bukan persoalan baru bagi masyarakat. Hewan tersebut beberapa kali masuk ke kawasan pertanian dan berpotensi merusak tanaman warga.

“Gajah itu sebelumnya memang beberapa kali masuk ke sini. Kalau sudah masuk, padi dan tanaman perkebunan warga bisa rusak,” ujarnya.

PETANI MINTA SEGERA DITUNTASKAN

Warga berharap pembangunan tanggul tidak kembali berlarut-larut. Terlebih, sejumlah lahan pertanian masyarakat kini mulai memasuki masa tanam.

“Harapan kami segera diselesaikan. Apalagi sekarang beberapa sawah sudah mulai masuk masa tanam,” kata Rahmad.

Ia berharap tanggul yang dibangun nantinya mampu memberikan rasa aman bagi petani sekaligus menjadi salah satu solusi untuk mengurangi konflik manusia dengan gajah Sumatra.

“Kalau tanggulnya sudah selesai, mudah-mudahan petani bisa lebih tenang dan konflik dengan gajah juga bisa berkurang,” sambungnya.

Afria menegaskan, dukungan pemerintah desa dan masyarakat terhadap pembangunan tanggul dilandasi kepentingan melindungi aktivitas pertanian warga yang selama ini terdampak konflik gajah.

“Konflik gajah ini sudah lama sekali. Kami berharap tanggul ini bisa membantu mengurangi gajah masuk ke lahan masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap seluruh proses pembangunan dapat segera berjalan dengan memperhatikan kondisi lahan dan kebutuhan masyarakat.

“Kasihan juga petani kalau tanamannya rusak terus. Jadi kami mendukung pembangunan ini karena memang untuk kepentingan masyarakat,” pungkas Afria.

Dengan kesiapan lahan, dukungan pemerintah desa, serta kesediaan warga menghibahkan tanah tanpa kompensasi, masyarakat Sukorahayu kini menanti langkah nyata pembangunan tanggul. Harapannya sederhana: tanggul segera berdiri, petani lebih aman, dan konflik manusia dengan gajah dapat ditekan. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *