TUTUP BENGKEL SASTRA 2026, ISBEDY: MENULIS BUKAN HANYA MAU IKUT EVENT

Sastrawan Harus Banyak Jalan, Berdiskusi, Membaca dan Menulis

BANDAR LAMPUNG — Bengkel Sastra 2026 resmi ditutup pengampu Lamban Sastra, Isbedy Stiawan ZS, Jumat (28/8/2026) siang. Menutup rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 25 Agustus itu, Isbedy menegaskan bahwa menjadi penulis atau sastrawan tidak cukup hanya aktif ketika ada workshop, lomba, atau event sastra.

Menurut Isbedy, kemampuan menulis harus dibangun melalui proses panjang, konsisten, dan disiplin. Penulis dituntut terus berlatih mengolah gagasan, memperkaya bacaan, serta memperluas pengalaman.

“Menulis bukan hanya ketika ada workshop atau lomba semacam FLS3N maupun Peksiminas/Peksimida. Selain itu, perkuat dengan banyak membaca buku dan puisi karya penyair besar,” kata Isbedy saat menutup Bengkel Sastra 2026.

Ia mengajak seluruh peserta tidak berhenti pada pengalaman selama mengikuti kegiatan. Materi yang diperoleh dari para pemateri harus terus didalami dan dipraktikkan, terutama dalam menemukan ide, gagasan, maupun ilham untuk kemudian mengolahnya menjadi puisi.

Isbedy mengingatkan, menulis puisi yang kuat bukan pekerjaan mudah. Puisi yang baik, menurutnya, harus memiliki pesona sekaligus mampu “mengganggu” pembaca sehingga mendorong mereka untuk terus membaca dan merasakan kedalaman karya.

“Menjadikan puisi yang baik, yang penuh pesona, serta mengganggu pembaca untuk membaca tidak mudah. Maka harus terus-terus berlatih menulis puisi,” ujarnya.

39 Naskah Berebut 20 Kuota

Isbedy mengapresiasi penyelenggaraan Bengkel Sastra 2026 yang digelar Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS bekerja sama dengan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Ia menilai seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, bahkan tergolong sempurna.

Antusiasme calon peserta terlihat sejak tahap seleksi. Sebanyak 39 orang mengirimkan naskah, sementara kuota peserta hanya 20 orang.

“Sehingga para kurator bekerja keras demi mendapatkan peserta yang benar-benar layak dan karya puisinya sudah pantas terpilih,” katanya.

Isbedy juga meminta peserta segera menyelesaikan tugas puisi yang diberikan para pemateri. Ia mengingatkan agar karya tidak ditunda terlalu lama karena dapat menghilangkan suasana batin atau mood serta membuat ingatan terhadap pengalaman dan gagasan yang muncul selama proses kreatif ikut memudar.

Lamban Sastra Terbuka untuk Belajar

Lebih jauh, Isbedy menegaskan Lamban Sastra yang berada di lantai dua Gedung Perpustakaan Provinsi Lampung bukan sekadar tempat berkegiatan, melainkan ruang bersama bagi masyarakat yang ingin belajar dan mendalami sastra.

“Lamban Sastra selalu terbuka untuk dikunjungi dan menimba ilmu sastra. Sebab Lamban Sastra adalah komunitas bersama,” ujarnya.

Kepada para peserta, ia kembali menyampaikan pesan yang pernah diterimanya dari sastrawan besar Budi Darma.

“Menjadi pengarang (sastrawan) harus banyak-banyak jalan, banyak diskusi, banyak membaca, dan terakhir banyak-banyak menulis. Itu pesan sastrawan Budi Darma kepada saya waktu ia masih hidup,” tutur Isbedy.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa perjalanan kepengarangan tidak bisa dibangun secara instan. Pengalaman, pergaulan intelektual, bacaan, dan produktivitas menulis merupakan bagian penting dalam membentuk seorang sastrawan.

Tiga Pemateri, Satu Semangat Berkarya

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan dari tiga pemateri, yakni Ari Pahala Hutabarat, Nanang R Supriyatin, dan akademisi Program Studi Bahasa Lampung Universitas Lampung, Yinda Dwi Gustira.

Isbedy menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para pemateri yang dinilainya telaten dan sabar membagikan pengetahuan kepada peserta.

Sebelumnya, Ketua Pelaksana Bengkel Sastra 2026, Fitri Angraini, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, serta berbagai pihak dari kampus, sekolah, dan komunitas yang memberikan dukungan.

“Tanpa kepercayaan bersama, misal memberi dispensasi kepada siswa dan mahasiswa, dan pihak lain, kegiatan ini tidak akan berjalan lancar,” kata Fitri.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pemateri serta kurator khusus Djuhardi Basri, penyair asal Kotabumi, Lampung Utara.

Bengkel Sastra 2026 berlangsung sejak 25 Agustus 2026 di Villa Dangau Kedaung, Bandar Lampung. Kegiatan dibuka Kepala Balai Bahasa Lampung, Muhammad Muis.

Dewan Pembina, Yozi Rizal, turut hadir memberikan sambutan, memaparkan keberadaan Lamban Sastra, sekaligus memotivasi para peserta untuk terus berkarya.

Sejumlah tokoh dan pegiat sastra turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Himawan Ali Imron selaku pembina, Fajrun Najah Ahmad, Arman AZ, Yulizar Lubay, Iin Zakaria, Daniel, Yurie Arsyad Temenggung, serta sejumlah pegiat lainnya.

Bengkel Sastra 2026 pun ditutup bukan sebagai akhir proses belajar, melainkan menjadi titik awal bagi para peserta untuk membuktikan bahwa pengalaman selama bengkel dapat melahirkan karya-karya sastra yang terus tumbuh dan dibaca. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *