Setahun Di Lampung, Bhayangkara Presisi FC Masih “Mencari Hati” Masyarakat

Launching Jersey Sepi Suporter, Tribun Justru Dipadati Aparat Kepolisian

BANDARLAMPUNG — Setahun sudah Bhayangkara Presisi Lampung FC bermarkas di Sai Bumi Ruwa Jurai. Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim pun telah ditetapkan sebagai home base klub berjuluk The Guardians of Saburai itu.

Namun, setelah satu tahun berada di Lampung, sebuah pertanyaan patut diajukan: sudahkah Bhayangkara Presisi Lampung FC benar-benar menjadi milik hati masyarakat Lampung?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika launching tim dan jersey untuk menghadapi kompetisi musim 2026/2027 digelar di Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim, Sabtu (29/8/2026).

Acara yang dijadwalkan dimulai pukul 15.30 WIB tersebut justru molor lebih dari satu jam. Bukan karena pertandingan atau acara seremonial yang belum siap, melainkan suasana stadion yang belum menunjukkan geliat keramaian seperti yang diharapkan dari sebuah klub sepak bola profesional.

Yang lebih menggelitik, ketika tribun mulai terlihat penuh, mayoritas pengisi tribun justru berasal dari kalangan aparat kepolisian.

Pemandangan itu tentu menimbulkan ironi.

Launching klub sepak bola seharusnya menjadi panggung masyarakat dan suporter. Bukan sekadar panggung seremonial yang ramai karena pengerahan internal institusi.

Memang, manajemen telah mendistribusikan jersey kepada suporter. Bahkan disebutkan sebanyak 1.070 jersey telah dibagikan, sementara dalam rangkaian acara launching tahun ini disiapkan hingga 4.000 jersey gratis.

Tetapi jersey saja tidak cukup untuk membangun kecintaan.

Sepak bola membutuhkan hubungan emosional. Membutuhkan cerita. Membutuhkan identitas. Dan yang paling penting, membutuhkan suporter yang datang bukan karena diperintah, tetapi karena merasa memiliki.

SETahun, Tetapi Belum Jadi “Rumah”

Bhayangkara Presisi Lampung FC bukan klub baru kemarin sore.

Setahun lalu, pada Senin (28/7/2025), Bhayangkara FC secara resmi memperkenalkan Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim sebagai kandangnya sekaligus memperkenalkan jersey dan skuad musim 2025/2026.

Launching ketika itu bahkan dihadiri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo. Peresmian ditandai dengan penandatanganan oleh Kapolri bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Ekspektasinya tentu besar.

Klub profesional dengan latar belakang institusi kepolisian itu diharapkan tidak hanya bertanding di Lampung, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat Lampung.

Namun satu tahun kemudian, suasana launching 2026/2027 seperti memberi sinyal bahwa pekerjaan rumah itu belum selesai.

Bhayangkara sudah bermarkas di Lampung. Tetapi apakah Lampung sudah merasa memiliki Bhayangkara?

Itulah persoalan yang jauh lebih penting daripada sekadar berapa jersey yang dibagikan atau seberapa banyak kursi tribun yang terisi.

JANGAN SALAHKAN MASYARAKAT

Tidak adil jika sepinya suporter langsung diterjemahkan sebagai rendahnya kecintaan masyarakat Lampung terhadap sepak bola.

Masyarakat Lampung memiliki sejarah panjang dalam mendukung olahraga. Persoalannya adalah bagaimana klub membangun kedekatan tersebut.

Masyarakat ingin melihat klub yang hadir bukan hanya ketika pertandingan berlangsung.

Mereka ingin melihat pemain berbaur dengan masyarakat. Akademi yang hidup. Pembinaan pemain lokal. Program komunitas yang berkelanjutan. Harga tiket yang terjangkau. Identitas Lampung yang kuat. Dan yang paling penting, komunikasi yang membuat masyarakat merasa “ini klub kami.”

Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk memulai semua itu.

Jangan sampai Bhayangkara Presisi Lampung FC hanya menjadi klub yang bermarkas di Lampung, tetapi belum menjadi klub yang berakar di Lampung.

PEJABAT HADIR, SUPORTER DICARI

Launching Sabtu kemarin sebenarnya memiliki modal besar.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal hadir. Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Wibowo hadir. Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf juga hadir. Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar, unsur TNI yang diwakili Danrem Gatam, Anggota DPR RI Mukhlis Basri, Waketum PSSI Ratu Tisha, hingga COO sekaligus manajer Bhayangkara Presisi Lampung FC Kombes Pol Sumardji turut hadir.

Secara elite, panggung itu lengkap.

Tetapi sepak bola tidak hidup hanya dari kehadiran pejabat.

Sepak bola hidup dari suara tribun.

Ia hidup dari anak-anak yang mengenakan jersey klub. Dari keluarga yang datang ke stadion. Dari kelompok suporter yang menyanyikan lagu sepanjang pertandingan. Dari warga yang bangga membawa nama klub ke mana pun pergi.

Karena itu, ketika aparat kepolisian justru harus turun tangan berkeliling stadion untuk mengajak anggotanya masuk dan memenuhi tribun, pertanyaan mengenai hubungan klub dengan masyarakat menjadi semakin sulit dihindari.

Ini bukan soal menyalahkan polisi.

Ini soal refleksi.

Mengapa yang harus didorong masuk ke stadion justru aparat, sementara suporter yang seharusnya menjadi nyawa klub belum memenuhi tribun secara alami?

Bhayangkara HARUS MENJADI MILIK LAMPUNG

Bhayangkara Presisi Lampung FC memiliki kesempatan besar.

Nama Bhayangkara membawa identitas kepolisian. Kata Lampung membawa identitas daerah. Stadion Sumpah Pemuda membawa simbol sejarah olahraga Lampung.

Tiga unsur itu seharusnya bisa dirajut menjadi satu kekuatan:

institusi, klub, dan masyarakat.

Jangan biarkan ketiganya berjalan sendiri-sendiri.

Kalau ingin tribun penuh, jangan hanya membagikan jersey.

Bagikan rasa memiliki.

Kalau ingin suporter datang, jangan hanya mengundang mereka ketika launching.

Datanglah kepada mereka jauh sebelum pertandingan.

Masuklah ke sekolah-sekolah. Datangi komunitas sepak bola. Rangkul klub-klub lokal. Hidupkan akademi. Berikan ruang kepada pemain muda Lampung. Bangun komunitas suporter. Jadikan stadion sebagai rumah bersama.

Sebab klub sepak bola tidak akan pernah besar hanya karena nama besar pemiliknya.

Klub menjadi besar ketika masyarakat rela berdiri, berteriak, bernyanyi dan bertahan di tribun untuk membelanya.

SATU TAHUN SUDAH BERLALU

Setahun berada di Lampung seharusnya menjadi momentum evaluasi.

Bhayangkara Presisi Lampung FC tidak cukup hanya sukses secara kompetisi. Ia juga harus sukses secara sosial.

Menang di lapangan penting.

Tetapi memenangkan hati masyarakat jauh lebih penting.

Launching jersey Sabtu (29/8/2026) semestinya menjadi titik balik. Bukan sekadar memperkenalkan seragam baru dan skuad baru, tetapi memperkenalkan kembali klub kepada masyarakat Lampung.

Sebab pada akhirnya, sebuah klub sepak bola boleh saja mempunyai stadion.

Tetapi tanpa suporter, stadion hanyalah bangunan dengan kursi-kursi kosong.

Bhayangkara Presisi Lampung FC sudah punya home base.

Kini waktunya memastikan mereka juga punya “home” di hati masyarakat Lampung. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *