Nusantara, Amnesia Menang Kategori Puisi, Jejak Penyair Lampung Kembali Bersinar di Panggung Nasional
BANDAR LAMPUNG — Kabar membanggakan datang dari dunia sastra Lampung. Penyair asal Lampung, Ari Pahala Hutabarat, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026 kategori puisi melalui buku Nusantara, Amnesia yang diterbitkan Lampung Literature.
Kemenangan tersebut diumumkan dalam perhelatan Kusala Sastra Khatulistiwa pada 27 September 2026. Nusantara, Amnesia sebelumnya masuk dalam Daftar Panjang kategori puisi, kemudian melaju ke Daftar Pendek hingga akhirnya ditetapkan sebagai karya pemenang.
Dalam laporan dewan juri KSK 2026, Nusantara, Amnesia dinilai memiliki kekuatan dalam mempertemukan persoalan sejarah dengan pengalaman personal. Buku tersebut membaca kembali berbagai persoalan mengenai ingatan kolektif, sejarah, dan pengalaman manusia Indonesia melalui puisi yang mampu menampung “register diskursif dan register afektif”.
Salah satu dewan juri, Arif Bagus Prasetyo, mengatakan karya tersebut berangkat dari gagasan tentang Nusantara dan ingatan. Sejumlah persoalan sejarah dalam skala besar dipertemukan dengan pengalaman manusia yang lebih personal.
“Karya ini dengan gemilang mengolah trauma sejarah menjadi pengalaman puitik yang kaya, mendobrak kebekuan pikiran sembari menggetarkan emosi melalui komposisi yang padu secara bentuk maupun tema,” ujarnya.
Penilaian tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dewan juri dalam menetapkan karya Ari sebagai pemenang kategori puisi tahun ini.
ENAM TAHUN KEMBALI
Kemenangan Ari sekaligus mencatatkan kembali nama penyair Lampung dalam daftar penerima Kusala Sastra Khatulistiwa setelah jeda enam tahun.
Sebelumnya, penyair Lampung Inggit Putria Marga meraih penghargaan serupa untuk kategori puisi melalui buku Empedu Tanah pada 2020.
Catatan tersebut memperlihatkan keberlanjutan kiprah penyair Lampung di panggung sastra nasional. Selain Ari dan Inggit, Lampung juga memiliki sejumlah penyair yang telah lama berkiprah dalam sastra Indonesia, antara lain Isbedy Stiawan ZS dan Iswadi Pratama.
Perkembangan kepenyairan di Lampung berlangsung melalui berbagai ruang, mulai dari penerbitan buku, pembacaan puisi, diskusi, festival, bengkel sastra hingga komunitas yang mempertemukan penyair dengan pembaca.
Karena itu, kemenangan Nusantara, Amnesia menjadi bagian dari perjalanan panjang aktivitas sastra di Lampung sekaligus memperlihatkan karya yang lahir dari daerah dapat hadir dalam percakapan sastra nasional.
KARYA DITERBITKAN DARI LAMPUNG
Nusantara, Amnesia memiliki catatan lain yang tidak kalah penting. Buku tersebut diterbitkan oleh Lampung Literature, penerbit yang berbasis di Lampung.
Kehadiran buku terbitan daerah dalam ajang Kusala Sastra Khatulistiwa menjadi capaian tersendiri bagi ekosistem penerbitan sastra Lampung.
Kepala Bidang Penerbitan Lampung Literature, Devin Nodestyo, mengatakan pihaknya selama beberapa tahun terakhir berupaya menerbitkan karya para penulis dan penyair Lampung.
“Kami ingin karya yang lahir di sini punya kesempatan untuk dibaca lebih luas. Karena itu, ketika Nusantara, Amnesia menang (KSK), menjadi bukti bahwa karya yang diterbitkan dari Lampung juga bisa masuk dalam percakapan sastra nasional,” ujarnya.
Bagi dunia sastra Lampung, kemenangan Ari bukan hanya tentang sebuah penghargaan. Kehadiran Nusantara, Amnesia di panggung Kusala Sastra Khatulistiwa juga memperlihatkan kesinambungan proses kreatif penyair daerah, dukungan penerbit lokal, serta terbukanya ruang bagi karya-karya Lampung untuk menjangkau pembaca yang lebih luas. (*).






