KORANEDITOR.CO, LAMPUNG – Persatuan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) akan melaksanakan aksi unjuk rasa damai di Gedung Istana Negara, pada 24 September 2025 mendatang. Munculnya gerakan demontrasi itu terkait dengan persoalan harga singkong dan potongan refaksi.
Dalam agenda aksi unjuk rasa itu, PPUKI Provinsi Lampung bakal mengirim sedikitnya seribu (1000) massa. Aksi demo besar ini dipastikan bakal menjadi sorotan nasional dan internasional. Saat ini PPUKI Tulangbawang, Tulangbawang Barat dan Mesuji tengah mempersiapkan agenda besar tersebut.
Ketua PPUKI Tulangbawang, Hartopo, menerangkan, bahwa PPUKI Tulangbawang, Tulangbawang Barat dan Mesuji, telah mengadakan rapat terbatas dan sepakat berpartisipasi dan siap untuk memperjuangkan nasib petani singkong di Istana Negara.
“Alhamdulilah kami baru saja selesai menggelar rapat terbatas terkait dengan rencana aksi unjuk rasa damai di Jakarta. Kami sepakat siap berangkat,”terang Hartopo, di lokasi acara rapat terbatas di kediamannya, Rabu 10 September 2025.
Sedikitnya seribu (1000) massa petani singkong dari Lampung, kata dia, akan berangkat ke Jakarta pada 23 September 2025 dan bergabung bersama massa dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan daerah lainnya akan menyatu di depan gedung istana negara dengan mengusung sedikitnya lima (5) tuntutan.
Ia menjelaskan, dalam aksi demo itu, PPUKI Tulangbawang membawa lima (5) tuntutan, yaitu, pertama, stop impor singkong atau tapioka, kedua, tetapkan harga minimal singkong Rp1.350/kilo gram dan Refaksi maksimal 15 persen, ketiga, hentikan Kecurangan dan keempat,hentikan pungli di dalam pabrik dan kelima, tetapkan regulasi tataniaga singkong sebagai kepastian hukum.
“Massa dari PPUKI Tulangbawang mengusung sedikitnya lima tuntutan. Semoga dalam perjuangan ini dapat berjalan lancar tidak ada halangan apapun dan semoga tuntutan kami dapat didengarkan oleh Presiden dan para pemangku kebijakan,” kata Hartopo didampingi ketua PPUKI Mesuji, Kadek Tike. (tri)






