Lampung Selatan — Komunitas Cerebral Palsy Lampung (CPL) menegaskan pentingnya pendampingan komprehensif bagi anak penyandang cerebral palsy (CP) melalui kegiatan Silaturahmi Keluarga Besar CPL dan Edukasi bertema “Pendampingan untuk Anak Cerebral Palsy Lampung”, yang dirangkaikan dengan aksi amal bagi keluarga anak CP, Sabtu (24/1/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari itu dipusatkan di Jalan Dul Hadi Blok A No.5, Kelurahan Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Acara diikuti oleh keluarga anak cerebral palsy, tenaga medis, relawan, serta para donatur yang menunjukkan kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus.
Dalam sesi edukasi, dokter spesialis anak konsultan, Dr. Roro Rukmi WP, M.Kes., Sp.A (K), memaparkan secara komprehensif mengenai cerebral palsy, mulai dari definisi, klasifikasi, hingga tatalaksana jangka panjang yang harus dijalani anak dan keluarga.
“Cerebral palsy adalah gangguan perkembangan otak yang memengaruhi gerak, postur, dan kontrol otot. Kondisi ini tidak memburuk, tetapi dampaknya bisa berlangsung seumur hidup sehingga pendampingan jangka panjang sangat penting,” ujar Dr. Roro Rukmi dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi cerebral palsy di Indonesia mencapai sekitar 0,09 persen anak usia 24–59 bulan, atau setara dengan 9 kasus per 1.000 kelahiran. Menurutnya, anak CP juga kerap menghadapi komplikasi lain seperti epilepsi, gangguan kognitif, gangguan bicara, masalah tulang dan sendi, hingga gangguan penglihatan dan pendengaran.
“Penanganan anak cerebral palsy tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, rehabilitasi medik, ortopedi, fisioterapis, psikolog, serta peran aktif orang tua sebagai pendamping utama anak,” tegasnya.
Sementara itu, fisioterapis Ftr. Al Um Aniswatun Hasanah, M.Fis. menekankan bahwa fisioterapi merupakan salah satu pilar penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup anak cerebral palsy. Terapi dilakukan secara berkelanjutan untuk membantu mengoptimalkan fungsi gerak, mencegah kekakuan otot, serta meminimalkan risiko deformitas.
“Fisioterapi bukan hanya soal latihan gerak, tapi tentang memberi kesempatan anak untuk mencapai potensi terbaiknya. Konsistensi terapi dan keterlibatan orang tua menjadi kunci utama keberhasilan,” jelas Al Um Aniswatun.
Ia juga menyampaikan pesan reflektif yang menyentuh hati para peserta.
“Tidak ada orang tua yang bercita-cita memiliki jalan hidup yang lebih berat. Namun ketika Allah menitipkan anak-anak istimewa ini, Allah juga menitipkan hati yang sangat kuat kepada orang tuanya,” ucapnya, disambut haru para hadirin.
Kegiatan ini ditutup dengan pembagian doorprize serta penyaluran donasi bagi keluarga anak cerebral palsy sebagai bentuk solidaritas dan dukungan nyata. CPL Lampung berharap kegiatan serupa dapat terus digelar untuk memperluas edukasi publik sekaligus memperkuat jejaring dukungan bagi keluarga anak cerebral palsy di Provinsi Lampung. (*).






