ERIN, GAJAH KORBAN JERAT YANG MENOLAK MENYERAH

Sepuluh Tahun Bertahan dengan Belalai Buntung, Dirawat Mahout Sukowiyono di Way Kambas

LAMPUNG TIMUR — Langkah Erin tak lagi sama dengan gajah-gajah lain di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Gajah betina itu berjalan perlahan dengan tubuh yang kini sehat dan tegap. Namun, satu bagian tubuhnya menjadi pengingat tragedi yang pernah hampir merenggut nyawanya: belalainya tak lagi utuh.

Sepuluh tahun lalu, Erin menjadi korban jerat pemburu liar di kawasan Susukan Baru. Saat ditemukan pada 13 Juli 2016, gajah yang ketika itu masih berusia sekitar 2,5 hingga 3 tahun tersebut berada dalam kondisi mengenaskan.

Tubuhnya kurus, luka di ujung belalai membusuk, sementara kawanan dan induknya telah meninggalkannya. Erin tak mampu mengikuti pergerakan kelompok akibat luka parah yang dideritanya.

Di tengah kondisi kritis itu, Erin kemudian diselamatkan dan dibawa ke kawasan konservasi. Sejak saat itu, kehidupan Erin dipertautkan dengan seorang mahout senior, Sukowiyono (56).

“Yang jelas dari laporan kepala resort, terus dari tim patroli kita yang mengambil. Terus dibawa ke sini. Yang jelas sudah luka, luka benar. Itu sekitar umur 2,5 tahun, 3 tahun lah itu. Dulu sendiri. Ditinggal induknya,” kenang Sukowiyono.

MERAWAT ERIN DARI AMBANG MAUT

Merawat Erin bukan pekerjaan biasa. Kehilangan sebagian belalai membuat satwa tersebut menghadapi berbagai keterbatasan.

Belalai yang bagi gajah berfungsi untuk mengambil makanan, minum, berkomunikasi hingga menyiramkan air dan lumpur ke tubuh, tidak lagi dapat digunakan Erin secara normal.

“Lebih ekstra. Karena dia putus belalainya, terus enggak seperti gajah lain bisa main lumpur di rawa. Siang kita telaten mandiin lumpur biar dingin badannya. Terus makan juga kita ajarin,” tutur Sukowiyono.

Pada masa awal perawatan, makanan harus disuapkan langsung ke mulut Erin. Sukowiyono juga secara perlahan mengajarinya mengambil makanan dan menyesap cairan dengan sisa belalai yang dimilikinya.

Mahout yang telah mengabdi sejak 1995 itu bahkan menggunakan makanan sebagai bagian dari pendekatan untuk membangun kembali kepercayaan Erin terhadap manusia.

“Memang sudah ada makanan, cuma kita kasih tambahan dari kita. Biar pendekatan-pendekatan. Ya memang sudah profesi kita dan sudah tupoksi kita di sini sesuai dengan SK. Kita melatih gajah,” katanya.

SEPULUH TAHUN KEMUDIAN

Kini, sekitar satu dekade setelah diselamatkan, Erin telah tumbuh menjadi gajah betina berusia sekitar 13 tahun. Kondisi fisiknya jauh lebih baik dibanding ketika pertama kali ditemukan.

Namun, keterbatasan fisik membuat Erin memiliki perilaku yang berbeda dibanding sebagian gajah lainnya. Ia cenderung menyendiri dan terkadang menyingkir ketika berhadapan dengan gajah yang berukuran lebih besar.

“Namanya cacat, makanya dia agak minder lah yang jelas itu. Karena lebih besar yang mendekati. Kalau sama yang kecil juga enggak apa-apa,” ujar Sukowiyono.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan Erin, terlebih ketika pola konservasi gajah mulai diarahkan pada kehidupan yang lebih alami dan berkelompok.

Masa depan Erin di TNWK masih menunggu perkembangan program konservasi selanjutnya. Namun, bagi Sukowiyono, satu hal tidak berubah: ia akan tetap merawat gajah yang telah menjadi bagian dari kehidupannya selama bertahun-tahun tersebut.

“Kita kan nunggu program ini nanti bagaimana. Kita belum tahu. Alhamdulillah sampai sekarang semangat. Tiap hari semangat,” tegasnya.

LUKA YANG MENJADI PELAJARAN

Kisah Erin menjadi gambaran nyata dampak jerat terhadap satwa liar. Luka yang ditinggalkan bukan hanya menghilangkan bagian tubuh, tetapi juga mengubah cara satwa bertahan hidup dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Di kawasan Way Kambas, Erin kini terus menjalani kehidupannya dengan kondisi yang berbeda dari gajah lain.

Belalainya mungkin tidak akan pernah kembali seperti semula. Namun, satu dekade perjuangannya menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu berakhir dengan kematian.

Di balik tubuh dan belalai yang tak lagi sempurna, Erin tetap bertahan. Dan di sampingnya ada Sukowiyono—mahout yang sejak sepuluh tahun lalu memilih menjaga, merawat, dan memastikan gajah korban jerat itu tidak kembali menghadapi kesunyian seorang diri.

Kisah Erin sekaligus menjadi pengingat bahwa satu jerat di hutan dapat meninggalkan luka seumur hidup bagi satwa liar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *