Mukhlis Basri: Kematian Jadi Cermin, Kita Semua Hanya Menunggu Giliran
BANDARLAMPUNG — Suasana penuh haru menyelimuti kediaman keluarga besar H. Mukhlis Basri di Perum Korpri Blok A12 No. 10, Korpri Raya, Sukarame, Bandar Lampung, Minggu (4/10/2026) malam. Ratusan jamaah, ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, sahabat dan kerabat menghadiri Yasinan dan Tahlil tujuh hari atas berpulangnya ibunda tercinta, Hj. Saodah binti Ahmad Sinwani, dalam usia 84 tahun.
Anggota Komisi V DPR RI sekaligus tuan rumah, Mukhlis Basri, menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada seluruh jamaah yang tidak hanya hadir pada malam tahlilan, tetapi juga telah mendampingi keluarganya sejak almarhumah wafat, proses pemakaman hingga rangkaian tahlilan malam pertama sampai malam ketujuh.
“Kami memang sedang berduka, tetapi kehadiran bapak dan ibu jamaah yang luar biasa ini membantu kami melepas almarhumah dengan tulus dan ikhlas. Sekali lagi saya sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh jamaah yang hadir malam ini,” ujar Mukhlis Basri.
Menurut Mukhlis, almarhumah Hj. Saodah meninggal dunia setelah beberapa waktu terakhir mengalami penurunan kondisi kesehatan. Sekitar enam bulan sebelum wafat, almarhumah kehilangan penglihatan akibat penyakit glaukoma.
“Kami sudah berusaha membujuk beliau untuk menjalani operasi. Namun karena merasa sudah tua, beliau memilih pasrah. Beberapa bulan terakhir lebih banyak berbaring di kamar. Kami sebagai anak tentu sudah berusaha memberikan yang terbaik,” tuturnya.
Mukhlis juga memberikan penghargaan khusus kepada para ulama, kiai dan ustaz yang telah mendampingi keluarga sejak proses pemulasaraan jenazah.
“Terima kasih kepada seluruh ulama, kiai dan ustaz yang telah bersama kami mulai dari memandikan, mengkafankan, menyalatkan dan mengantar jenazah hingga tahlilan malam pertama sampai malam ketujuh. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya,” katanya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para sahabat dan keluarga dari berbagai daerah, di antaranya Bandar Lampung, Tanggamus dan Lampung Barat, yang memberikan dukungan moril, materi maupun doa bagi almarhumah.
Mukhlis berharap seluruh doa yang dipanjatkan menjadi jalan bagi almarhumah memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Mudah-mudahan almarhumah mendapatkan husnul khatimah, diampuni segala dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dibebaskan dari siksa kubur dan ditempatkan di tempat yang layak di Surga Firdaus,” harapnya.
KEMATIAN MENJADI CERMIN
Di hadapan ratusan jamaah, Mukhlis juga mengajak seluruh yang hadir menjadikan wafatnya Hj. Saodah sebagai pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian.
“Kita semua adalah orang yang akan mengalami hal yang sama. Kita ini hanya daftar tunggu. Karena itu, mari kita jadikan peristiwa ini sebagai cermin bagi kita semua. Kita tidak tahu kapan musibah atau kematian akan datang kepada kita,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak jamaah meningkatkan keimanan dan ketakwaan sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah dunia.
“Mari kita meningkatkan iman dan takwa agar ketika waktunya sampai, kita berada dalam keadaan husnul khatimah,” pesan Mukhlis.
Pada kesempatan tersebut, Mukhlis juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh jamaah apabila semasa hidup almarhumah pernah terdapat kesalahan, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
“Kami memohon apabila di antara yang hadir ada yang pernah memiliki urusan, janji, perkataan maupun hal lainnya dengan orang tua kami ketika beliau masih sehat, kami mohon dimaafkan. Kami yakin almarhumah sebagai manusia biasa tentu memiliki kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Kami mohon maaf sebesar-besarnya,” katanya.
DIHADIRI TOKOH LAMPUNG
Yasinan dan tahlil tujuh hari tersebut dihadiri sejumlah tokoh Lampung. Di antaranya Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar, anggota DPD RI Bustami Zainudin, Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas, Wakil Wali Kota Metro M. Rafieq, Ketua DPD Partai Demokrat Lampung Edi Irawan Arief, tokoh pers Adiansyah alias Bang Aca, tokoh politik sekaligus Bupati pertama Lampung Timur Irfan Nuranda Djafar, serta Ketua Sikambara Junaedi.
Hadir pula jamaah Masjid Al Iman Perum Korpri, para santri pondok pesantren, ibu-ibu jamaah, alim ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, sahabat dan kerabat keluarga.
Rangkaian Yasinan dan Tahlil tujuh hari berlangsung khidmat. Doa bersama menjadi bentuk penghormatan terakhir keluarga sekaligus ikhtiar mendoakan almarhumah agar mendapat ampunan dan rahmat Allah SWT. (*).






