Dies Natalis Ke-12 Itera, Rektor: Saatnya Lompat Menuju Keunggulan Global

Bandarlampung — Institut Teknologi Sumatera (ITERA) memasuki usia ke-12 dengan tekad memperkuat transformasi sebagai perguruan tinggi teknologi yang unggul, inovatif, berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi Sumatera maupun Indonesia.

Tekad tersebut ditegaskan Rektor ITERA, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., dalam pidato Dies Natalis ke-12 ITERA yang berlangsung dalam sidang terbuka di Aula Gedung Kuliah Umum (GKU) 2 lantai 4 ITERA, Senin (5/10/2026).

Mengusung tema “Rumah Inovasi Menuju Keunggulan Global” dengan tagline “Brave, Independent, Sustainable and Adaptive”, Dies Natalis ke-12 menjadi momentum bagi ITERA untuk mengevaluasi capaian sekaligus menyiapkan lompatan baru menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.

“Dua belas tahun bukan sekadar perjalanan waktu. Dua belas tahun adalah perjalanan membangun, bertumbuh, berinovasi, dan memberikan kontribusi bagi Sumatera dan Indonesia,” tegas Elfahmi.

Menurutnya, sejak berdiri pada 2014 di atas kawasan yang sebelumnya merupakan lahan perkebunan, ITERA terus berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan teknologi di Sumatera. Kampus ITERA di Lampung Selatan kini berkembang di kawasan seluas 273 hektare, ditambah kawasan seluas 85 hektare di Lampung Barat.

Perkembangan tersebut diikuti pertumbuhan jumlah mahasiswa, program studi dan lulusan. Saat ini ITERA memiliki sekitar 22.651 mahasiswa aktif, terdiri dari 41 program studi sarjana dan satu program magister. Hingga kini, ITERA juga telah menghasilkan 16.159 lulusan yang sebagian besar telah bekerja dan mengabdi di berbagai bidang, baik di dalam maupun luar negeri.

Dari sisi mutu akademik, Elfahmi mengatakan secara bertahap program studi di ITERA terus meningkatkan status akreditasi. Saat ini, delapan program studi telah memperoleh predikat unggul, sementara sejumlah program studi lainnya masih dalam proses.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa ITERA terus tumbuh. Namun, pertumbuhan harus selalu kita iringi dengan peningkatan mutu dan dampak,” ujarnya.

Rektor juga mengungkapkan hasil tracer study ITERA menunjukkan waktu tunggu rata-rata lulusan untuk memperoleh pekerjaan sekitar 2,8 bulan, sedangkan 78 persen responden alumni bekerja sesuai dengan bidang keilmuan yang dipelajari selama menempuh pendidikan.

Prestasi mahasiswa juga menjadi bagian dari capaian ITERA. Pada PIMNAS ke-38, ITERA berhasil menempati peringkat keenam nasional dari 167 perguruan tinggi peserta.

Di bidang keberlanjutan, ITERA mencatat capaian penting. Setelah meraih penghargaan sebagai perguruan tinggi paling berkelanjutan dalam bidang penataan ruang dan infrastruktur di Indonesia pada 2025, ITERA pada 2026 kembali mencatat prestasi dengan menempati peringkat kedua PTN satuan kerja paling berkelanjutan di Indonesia dalam UI GreenMetric Indonesia 2026.

Namun, Elfahmi menegaskan capaian tersebut tidak boleh membuat ITERA berhenti berbenah.

Perubahan teknologi yang sangat cepat, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), transformasi digital, ekonomi berbasis pengetahuan, serta perubahan kebutuhan dunia kerja menjadi tantangan yang harus dijawab perguruan tinggi.

“ITERA terus dituntut untuk berbenah dan meningkatkan kontribusi yang lebih besar lagi dalam menghasilkan sumber daya unggul, pengembangan ilmu pengetahuan serta hasil inovasi yang berdampak bagi masyarakat dan bangsa,” katanya.

Memasuki fase berikutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas utama ITERA.

Elfahmi menyebut akselerasi pendidikan doktor bagi dosen perlu terus didorong. Saat ini, baru sekitar 13 persen dosen ITERA yang bergelar doktor.

“Peningkatan kapasitas dan kualitas SDM menjadi fokus dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Akselerasi pendidikan S3 dosen yang pada saat ini tercatat baru 13 persen yang bergelar doktor menjadi sangat penting, demikian juga berbagai program peningkatan kompetensi tenaga kependidikan,” ujarnya.

Selain pendidikan, ITERA juga memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Rektor menekankan agar penelitian tidak berhenti pada publikasi, tetapi mampu menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan industri.

“Riset harus menjadi inovasi. Inovasi harus menjadi solusi, dan solusi harus memberikan dampak,” tegasnya.

Sejumlah kelompok riset multidisiplin pun telah dikembangkan ITERA, antara lain riset peningkatan nilai tambah komoditas unggulan Lampung seperti singkong, lada, pala, nanas dan kopi.

ITERA juga mengembangkan riset logam tanah jarang, energi baru terbarukan, peningkatan kapasitas panel surya, desa binaan dengan komoditas alpukat siger dan potensi geopark baru di Jatimulyo, Lampung Timur, serta pengelolaan sampah terintegrasi melalui Integrated Waste Agri Center ITERA (IWACI).

Dari sisi kelembagaan, ITERA juga tengah mempersiapkan transformasi dari satuan kerja (Satker) menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

Transformasi tersebut dibarengi dengan upaya pembaruan organisasi dan tata kelola agar mampu mengikuti perkembangan ITERA yang semakin besar.

“Peningkatan tata kelola perguruan tinggi yang profesional, agile, transparan, humanis, kekeluargaan, handal serta tangguh merupakan hal penting yang terus diupayakan oleh ITERA. Penguatan organisasi sangat diperlukan di saat ITERA semakin membesar,” kata Elfahmi.

Menurutnya, ITERA juga tengah mengusulkan organisasi dan tata kerja (OTK) baru untuk mendukung pengelolaan institusi yang terus berkembang.

Penguatan infrastruktur menjadi bagian lain dari strategi ITERA menuju perguruan tinggi yang semakin maju.

Pada tahun ini, berbagai renovasi fasilitas pendidikan dan pendukung tengah berlangsung. Selain itu, pembangunan Gedung Layanan Umum juga terus dipersiapkan.

Dalam rangkaian Dies Natalis ke-12, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. turut menandatangani sejumlah pembangunan gedung baru ITERA, yakni GKU 2, Gedung OSCE, Apotek dan Gedung Klinik ITERA.

ITERA juga tengah mempersiapkan pembangunan GKU 3 melalui pendanaan SBSN serta pembangunan auditorium ITERA oleh Kementerian PUPR beserta jembatan penyeberangan orang (JPO).

“Semoga pembangunan infrastruktur ini terus berlanjut,” ujar Elfahmi.

Menutup pidatonya, Elfahmi mengajak seluruh sivitas akademika, alumni, mitra dan pemangku kepentingan untuk menjadikan 12 tahun pertama sebagai fondasi menuju lompatan besar ITERA.

“Dua belas tahun pertama adalah fondasi. Mari kita jadikan tahun-tahun berikutnya sebagai momentum lompatan ITERA menuju institusi yang semakin unggul, inovatif, berkelanjutan, dan berdampak,” katanya.

Ia menegaskan, ITERA harus menjadi rumah bersama yang dibangun melalui semangat riset, inovasi, kekeluargaan dan kemampuan beradaptasi.

“Karena ITERA adalah Rumah Kita. R.U.M.A.H — Riset dan Inovasi Unggul serta Mahasiswa Hebat. K.I.T.A — Kekeluargaan, Inovatif, Tangguh, dan Adaptif. Mari kita bergerak bersama, berkarya bersama, berinovasi bersama, dan membangun masa depan bersama,” pungkasnya.

Sidang terbuka Dies Natalis ke-12 ITERA tersebut dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan yang mewakili Gubernur Lampung, Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., ASEAN Eng, jajaran pimpinan daerah, sivitas akademika ITERA, pimpinan perguruan tinggi di Lampung, mitra ITERA serta para tamu undangan. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *