EDITORONLINE.ID, TULANGBAWANG – Pengadaan Kambing dari Anggaran Dana Desa Kampung Sukarame, Kecamatan Meraksa Aji, terindikasi Mark Up dan terindikasi adanya konspirasi untuk mencari keuntungan.
Indikasi adanya konspirasi antara Kepala Kampung dan Panitia Kegiatan serta suplaiyer kambing (blantik) itu menguat dengan realisasi kambing yang diadakan dinilai tidak sesuai dengan anggaran yang ada.
Anggaran pengadaan kambing senilai Rp.105 juta untuk 64 ekor itu terindikasi terjadi unsur Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Kambing yang diadakan tidak sesuai dengan budget anggaran dengan harga satuan Rp.1.640.000.
Beberapa penerima bantuan tersebut mengeluhkan lantaran kambing yang dibelikan diduga tidak sesuai dengan harga yang dianggarkan.
Beberapa waktu lalu, Sukamto (belantik kambing/red) saat di hubungi wartawan memberikan keterangan diduga terdapat kongkalikong terhadap oknum kepala kampung Sukarame.
“Katanya sesuai dengan RAB Rp.1.650 ribu per ekor di potong pajak, jadi bersihnya Rp. 1.612 ribu rupiah per ekor yang saya Terima, yang jelas untuk saat ini harga kambing masih tinggi, jadi ketemunya memang segitu sesuai dengan sample,”Jelas Kamto.
Sementara sebelumnya, salah satu ketua RT pada RK 02, yang juga penerima bantuan kambing Sumanto, mengatakan, kambing yang diterimanya itu hanya berkisar Rp.700 ribu sampai Rp.900 ribu di pasaran.
“Kambing memang kecil-kecil disebut cempe. Pertama datang masih kurus. Ini sudah lumayan gemuk. Kambingnya datang tanggal 16 Agustus 2022. Saya ambil tanggal 17,” katanya.
Ia mengatakan, kambing itu didistribusikan pada RK 2 sebanyak 16 ekor pada 5 penerima. Namun dirinya mengaku tidak mengetahui berapa anggaran pengadaan kambing tersebut.
“Aku terima 5 ekor. Sistemnya seperti apa kami belum tau karena belum musyawarah. Apakah nanti sistem bergulir atau bagaimana saya belum tau,” ulasnya.
Sedangkan untuk RK 1, salah satu penerimanya bantuan kambing itu yakni wakil Ketua BPK kampung setempat Jiono.
“Anak kambing mas (Cempe). Itu ada di kandang. Itu sudah agak gemuk. Saat datang pada tgl 16 Agustus, kambingnya kecil dan kurus,” kata Istri Jiono.
Selain itu, kambing yang diadakan melalui Dana Desa Kampung Sukarame itu terdapat beberapa yang mati.
“Mungkin anak kambing terlalu kecil masih butuh Asi dari induknya. Sehingga saat dipisahkan dari induknya karena tidak dapat Asi sehingga mati,” ucap salah satu warga setempat.
Masyarakat setempat juga mengeluhkan pendistribusian kambing yang diadakan melalui Dana Desa Kampung Sukarame tahun 2022 itu.
“Yang dapat itu aparatur kampung dan orang-orang dekat Pak Kepala Kampung. Tidak ada musyawarah terkait pembagian kambing itu,” beber warga.
Hingga saat ini, kepala kampung Sukarame belum bisa di konfirmasi lantaran di hubungi tidak aktif bahkan di kunjungi yang bersangkutan tidak di lokasi. (tri)






