Sikapi Polemik Kades Walk Out, Ketua LSM Genta Minta Pemda Lamtim Introspeksi Diri

Lampung Timur – Menyikapi sikap kades di Kecamatan Way Jepara yang walk out saat Musrenbang, Senin (13/02/2023) kemarin, serta  menanggapi pernyataan reaksioner Wakil Bupati Lamtim yang dikutip dari beberapa pemberitaan media online Ketua LSM Genta Lampung Timur, Fauzi Ahmad, S.H mengungkapkan keprihatinannya.

Menurut Fauzi Ahmad, S.H sikap kepala Desa adalah reaksi atas pembangunan yang dianggap tidak merata, dan itu merupakan sikap dan cara mereka sebagai kepala desa yang merasa kecewa karena desanya tidak tersentuh program pembangunan, jadi menurut mereka buat apa diadakan Musrenbang jika Desa mereka tidak dibangun.

” Saya rasa sikap kepala Desa adalah akumulasi atas kekecewaan pembangunan yang mereka anggap tidak berkeadilan, dan Wakil Bupati yang hadir seharusnya tidak mengeluarkan statmen reaksioner sebagaimana dikutip dari beberapa pemberitaan online atas tindakan Kepala Desa tersebut, karena yang dipermasalahkan oleh Kepala Desa adalah kebijakan, bukan Personal, artinya dalam tata pemerintahan jabatan Bupati Lampung Timur merupakan penentu semua kebijakan pemerintah yang utama, karena dalam undang – undang pemerintahan daerah tidak ada satu pasal atau ayat yg memberikan kewenangan kebijakan kepada wakil bupati kecuali bupati berhalangan,” ucapnya, Selasa (14/2).

” seorang pemimpin yang tidak punya etikabilitas otomatis tidak memiliki kredibilitas hal ini tentunya akan berdampak pada elektabilitas, contoh nyata  terjadinya walkout yang dilakukan kades saat acara Musrenbang di kecamatan Way Jepara”

“Ketika seorang terpilih menjadi seorang pemimpin maka ia adalah milik semua golongan artinya dalam menentukan kebijakan seorang pemimpin berperinsip pada nilai-nilai kebijak sanaan dan berkeadilan sehingga seluruh nya merasa terayomi” demikian pungkas Fauzi Ahmad,S.H. Ketua DPD LSM GERAKAN CINTA LAMPUNG TIMUR.

” Untuk itu harusnya Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur introspeksi diri, jangan hanya menyalahkan para kepala desa, karena culture Lampung Timur ini beradab” tutupnya. (Pung).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *