Mirzani Djausal Jenguk Sosok Demonstran Penyelamat Ketua Komisi II

Bandarlampung – Nahas bagi Agam, mahasiswa Universitas Malahayati, setelah menyelamatkan seorang anggota DPRD Provinsi Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi dari ‘hujan’ batu yang dilakukan ribuan mahasiswa saat melakukan aksi penolakan terhadap UU Omnibus Law, ia meski merasakan sakitnya terkena selongsong gas air mata yang mengenai kepalanya.
“Setelah saya membantu Pak Wahrul hingga masuk ke dalam mobil, dan mobilnya jalan, saya melihat motor saya sudah dirubuhkan massa dan akan dibakar. Ada juga motor penjual cimol yang akan dibakar juga, saya berusaha mendirikan motor tersebut, namun kepala saya kena selongsong gas air mata yang nyasar,” tutur Agam.
Pemuda berdarah Aceh ini pun kembali menuturkan, dirinya sempat mencari sosok Rahmat Mirzani Djausal diantara keramaian tersebut. “Saya sempat berusaha mencari bapak Mirza saat itu, takut bapak kena timpukan batu atau terluka,” aku Agam kepada Rahmat Mirzani Djausal yang menjenguknya, Jumat (9/10).
Menanggapi hal tersebut, Rahmat Mirzani Djausal meminta maaf karna tidak bisa menemui kemarin, dia mengatakan dirinya bersama beberapa teman yang masuk dalam panitia khusus (pansus) rancangan peraturan daerah (raperda) ketenagakerjaan sedang melakukan perjalanan keluar daerah Lampung.
“Saya dan teman teman sedang melakukan perjalanan dinas terkait raperda berhubungan dengan tenaga kerja juga dimana bisa mencover sesuatu yang belum diatur oleh undang – undang yang diatasnya. Ini sedang kami usahakan untuk disahkan akhir tahun ini,” ungkap Mirza.
Di kesempatan kunjungan tersebut, Mirza pun lantas melakukan video call dengan rektor Universitas Malahayati, Muhammad Kadafi. “Hai Bro, ini mahasiswamu, yang turut mengharumkan nama Malahayati. Mohon doa dan dibantu ya, lagi nyusun skripsi,” seloroh Mirza.
Di kesempatan kedua, Mirza juga melakukan video call dengan Ketua Komisi II, Wahrul Fauzi Silalahi dan memperkenalkan Agam sebagai penyelamat politikus Partai Nasdem tersebut dari hujan batu. “Ini bro, mahasiswa yang menyelamatkan elo. Bocor pala anak orang, selamatin elo bro,” kembali Mirza berseloroh.
Sementara itu Yusni Aisyah, ibu kandung Agam menyatakan dirinya tidak menyesal atas kejadian yang menimpa diri anaknya. Bahkan ia mengakui ini bukan kali pertama turun aksi, dirinya tidak menyalahkan anaknya. “Ini sudah panggilan jiwanya. Saya punya anak, laki – laki semua, tapi yang punya jiwa kritis hanya dia. Dia sudah tahu resikonya, jadi hadapi saja, tidak usah takut jika itu menyuarakan kebenaran,” tegas Yusni.
Yusni menuturkan kondisi anaknya mengalami retak sampai tulang tempurung dan ada rembesan darah dan mengalami kesulitan dalam berbicara. “Kenapa begini? Karena diduga ada penyumbatan di dalam. Tangannya pun seperti kram, ini sudah lebih bisa digerakkan. Mohon doa saja untuk kesembuhan Agam,” ungkap Yusni.
Meski mengalami luka serius, namun dikiatakan Yusni, Agam bahkan ingin bersegera turun kembali bergabung dengan teman – teman mahasiswa lainnya yang masih berjuang untuk meminta pemerintah setempat mendorong pemerintah pusat membatalkan undang – undang omnibus law cipta kerja. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *