Terkait dengan adanya wabah PMK ( Penyakit Mulut dan Kaki ) yang mewabah di Provinsi Lampung sangat berdampak pada ketersedian sapi lokal bakalan & sapi potong. Menurut data BPS pada Tahun 2021-2022 sebanyak 860.951 ekor sapi potong. Jumlah tersebut untuk memasok kebutuhan di lampung, bisa dibilang cukup.
Akan tetapi bila melihat data BPS pada beberapa tahun sebelum nya, Provinsi Lampung bisa surplus dan bisa mencukupi kebutuhan nasional.
Kalo wabah PMK ini berkepanjangan ya bisa berkurang juga stok sapi di Lampung.
Pelaku usaha bersama Pemerintah seharusnya bisa bersinergi mengantisipasi kekurangan populasi sapi lokal siap potong bisa tetap terjaga, Pemerintah seharusnya mempermudah dalam hal regulasi dan kebijakan terkait impor sapi bakalan dan siap potong, dengan mengatur kuota impor daging beku yang selama ini berlaku, jangan sampai dengan berlaku nya kebijakan impor daging beku, mematikan pengusaha dan peternak sapi lokal. Sehingga Kawatir tidak seimbangnya antara supply & demand yang mempengaruhi kenaikan harga.
Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular. Penyakit ini menyerang semua hewan berkuku belah/genap, seperti sapi, kerbau, babi, kambing, domba termasuk juga hewan liar seperti gajah, rusa dan sebagainya. Virus dapat bertahan lama di lingkungan, dan bertahan hidup di tulang, kelenjar, susu serta produk susu.
Kerugian dari dampak penyakit ini bukan hanya dirasakan oleh peternak, namun juga dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Potensi kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh PMK ini tidak hanya pada peternak yang mengalami penurunan produktivitas hingga kehilangan hasil, akan tetapi kerugian secara nasional. Kerugian ekonomi bagi kegiatan usaha peternak terutama disebabkan oleh kehilangan produktivitas karena penurunan produksi susu (25% per tahun), penurunan tingkat pertumbuhan sapi potong (10% – 20%), kehilangan tenaga kerja (60% – 70%), penurunan fertilitas (10%) dan perlambatan kebuntingan, kematian anak (20% – 40%), dan pemusnahan ternak yang terinfeksi secara kronis.
PMK harus segera teratasi, karena sangat berpengaruh terhadap ketersediaan stok sapi bakalan dan siap potong. seperti data di Kabupaten Lampung Timur, banyak sekali peternak yang kehilangan hewan ternak nya, pasca maraknya Virus PMK. (Data diakses pada Jurnal Kesiagaan Darurat Veteriner Indonesia. Penyakit Mulut dan Kuku. Kementan Pertanian. Tahun 2022)
Provinsi Lampung sebagai lumbung ternak sapi hidup, saat ini di banjiri daging beku import yg tidak menguntungkan peternak dan pelaku usaha daging sapi. (*).






