Koalisi Besar digagas Jokowi. PDIP jadi sorotan. Ganjar dan Prabowo alam pusaran capres 2024. Tak bisa dipungkiri koalisi NasDem, PKS, dan Demokrat dengan capres Anies Baswedan menjadi ancaman. Maka perlu tindakan penyelamatan. Bukan hanya untuk para partai, namun urusan negara.
PDIP waspada; terkait bukan hanya soal Ganjar dan Koster. Namun ada yang lebih penting. Menghentikan Anies Baswedan menang dalam Pilpres 2024. Selain cara lain yakni menyeret Anies Baswedan lewat kegilaan kasusFormula-E, kelebihan bayar dan lain-lain. Yang sayangnya sampai detik ini KPK, Kejaksaan Agung dan Polri tidak berani terhadap Anies Baswedan.
Karena lawan yang dihadapi oleh Ganjar dan Prabowo adalah Anies Baswedan, antek Amerika Serikat. Koalisi pengusung Anies Baswedan juga mengerikan. NasDem representasi kapitalisme dan pragmatisme politik. PKS wakil fundamentalisme Islam Ikhawanul Muslimin dengan kiblat Partai AKP di Turki. Partai Demokrat adalah peternak radikalisme, pembesar ormas teroris FPI dan HTI, hingga menteri Adyaksa Dault pun menjadi bagian HTI.
Jokowi melihat parpol waras dan nasionalis harus bersatu. Perseteruan internal harus dibuang. Soal Israel dan Piala Dunia U-20 akan terkubur; ada prioritas. PDIP diundang menjadi bagian dari kekuatan untuk menghentikan Anies Baswedan.
Indonesia jangan sampai jatuh ke tangan Anies Baswedan. Anies Baswedan adalah kaki tangan Amerika; dengan segala aktivitas sejak SMA sampai kuliah. Anies Baswedan satu irama dengan Jeffrey Winters, agen CIA yang suka ngompori kelompok Islam dan kalangan kampus untuk melawan Jokowi.
Pun, makin benderang ketika PKS mulai menghadap ke Washington, gambaran untuk men-syuriahkan Indonesia menjadi lebih jelas. PKS pun rapat kerja di negara berideologi IM, Turki. PKS adalah kembaran AKP di Turki.
Belum lagi Jusuf Kalla di belakang Anies Baswedan. JK ini memiliki kepentingan ekonomi dengan menggunakan ideologi dan jaringannya membangun dukungan terhadap Anies Baswedan. Seperti ketika menjadikan Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta. Politisasi masjid dan agama menjadi alat bagi geng ini. Ini jelas meresahkan.
Di belakang Anies, pendukungnya adalah gerombolan teroris seperti FPI, HTI, Ikhwanul Muslimin (IM), NII, dan Wahabi. Mereka solid mendukung Arab Yaman ini.
Kini, timbul kesadaran untuk capres Ganjar dan Prabowo menjadi isu utama. Gerindra kekueh mencapreskan Prabowo. PDIP akan mencapreskan Ganjar yang telah lulus test; ikut garis partai PDIP dan konstitusi. Prabowo-Ganjar atau Ganjar-Prabowo menjadi isu utama. Demi melawan Anies.
Memang paling praktis adalah menyeret Anies. Atau pada detik akhir, NasDem membuang Anies, lalu NasDem bergabung dengan KIB untuk menciptakan dua pasang capres-cawapres. Yang keduanya all Jokowi men.
Namun, jika tidak mampu mengajak Suryo Paloh masuk dalam scenario all Jokowi men, karena Suryo Palog merasa Anies Baswedan dianggap sangat kuat, dan pasti menang, maka Anies harus dihadapi oleh Koalisi Besar.
Kini saatnya PDIP memainkan kekuatan kartu as-nya. Soal Ganjar-Prabowo atau Prabowo Ganjar tidak penting karena keduanya nasionalis. Mahfud MD pun bisa menjadi calon alternatif kompromistis yang kekuatan daya tariknya melebihi Ma’ruf Amin di kalangan Islam. Intinya ABAS alias Asal Bukan Anis Baswedan. (Kandang Sapi, Karang anyar.. April 2023)






