Koraneditor.id, Lampung Barat
Kondisi kekurangan sel darah merah di dalam tubuh atau yang dikenal dengan anemia bisa dialami oleh siapa saja, termasuk anak remaja.
Namun, jika dibandingkan remaja putra, remaja putri berisiko lebih tinggi mengalami anemia. Salah satu alasannya karena remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lampung Barat (Lambar) Widyatmoko Kurniawan mengatakan, menstruasi bulanan menyebabkan para remaja putri mudah mengalami anemia, yaitu kondisi dimana sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin di dalamnya lebih rendah dari biasanya.
“Sehingga membuat tubuh lebih mudah lemas dan mudah untuk pingsan,” ungkap Widyatmoko saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/2/2024).
Tidak berhenti sampai disitu lanjutnya, dampak anemia juga menyebabkan para remaja putri mengalami berbagai kondisi seperti:
Penurunan imunitas sehingga lebih rentan terpapar berbagai penyakit infeksi.
Penurunan konsentrasi belajar di kelas.
Penurunan prestasi di sekolah.
Penurunan kebugaran dan produktivitas kerja.
Melihat kondisi demikian, maka upaya pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) menjadi penting diberikan untuk remaja putri dalam proses pertumbuhannya.
Jika dilihat dari hasil Riskesdas pada tahun 2018, tercatat sebesar 26,8% anak usia 5-14 tahun menderita anemia dan 32% pada usia 15-24 tahun. Itu artinya 3 dari 10 orang remaja menderita anemia.
Kasus anemia yang masih tinggi ini sangat erat kaitannya dengan kepatuhan dalam mengkonsumsi TTD, dimana 8,3 juta dari 12,1 juta remaja putri tidak mengkonsumsi TTD yang membuat mereka berisiko anemia.
Selain untuk meminimalisir potensi anemia yang berakibat terhadap kesehatan dan prestasi di sekolah, pemberian TTD juga untuk mempersiapkan kesehatan remaja putri pada saat sebelum menjadi seorang ibu.
“Pemberian TTD pada remaja putri juga untuk mencegah ibu nantinya melahirkan bayi dengan tubuh pendek (stunting) atau berat badan lahir rendah (BBLR),” katanya.
Dengan minum TTD secara rutin, diharapkan mampu mengurangi potensi anemia dan lahirnya bayi dalam keadaan stunting dari para ibu di Indonesia khususnya di Lambar.
Sehingga terciptanya generasi muda dan generasi penerus yang sehat serta mampu berdaya saing dapat terbentuk dengan maksimal.
Beberapa gejala anemia yang dapat dialami oleh remaja seperti berikut, diantaranya adalah:
Terlihat sangat lelah
Mengalami perubahan suasana hati
Kulit yang terlihat lebih pucat
Sering mengalami pusing
Mengalami jaundice (kulit dan mata menjadi kuning)
Detak jantung berdebar lebih cepat dari biasanya.
Mengalami sesak nafas, sindrom kaki gelisah hingga kaki dan tangan bengkak apabila mengalami anemia berat.
Pada remaja, anemia dapat menyebabkan berbagai dampak seperti berikut:
Penurunan imunitas
Gangguan konsentrasi
Penurunan prestasi belajar
Mengganggu kebugaran dan produktivitas.
Memperbesar resiko kematian saat melahirkan
Menjadi salah satu penyebab bayi lahir prematur
Berat bayi yang cenderung rendah
“Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk membantu mendeteksi suatu penyakit sejak dini sehingga penyakit tersebut dapat dicegah dan mendapatkan penanganan pengobatan yang tepat sebelum penyakit berkembang,” imbuhnya. (TN)






