// Dengan Tarian Bharatanatyam Salangai Poojai dengan keanggunan dan keterampilannya //
Bandarlampung – Abigail Aishwarya Pany, berumur 14 tahun, asal dari Lampung, memukau 650 penonton saat dia membawakan Tarian Bharatanatyam dalam upacara salangai poojai di Ipoh, Perak.
Abigail, siswa Tenby Schools Ipoh, menjadi siswa pertama Indonesia yang naik panggung membawakan Tarian Bharatanatyam di Auditorium RTM (Radio Televisyen Malaysia), Ipoh, Perak.
“Saya sedikit gugup untuk menari di depan banyak orang. Saya senang mereka mengapresiasi tarian saya,” ujar Abigail yang memukau penonton dengan gerakan anggunnya.
Abigail mulai menari, sekitar tujuh tahun lalu di Temple of Fine Arts Penang. Hampir 3 tahun, Abigail harus menjalani latihan secara online dikeranakan pandemik covid-19.
Orang tua Abigail, James Pany, 51, seorang General Manager, dan ibu Kris Oktina (berasal dari Metro), 40, seorang web designer, terlihat berseri-seri bangga menyaksikan penampilan anaknya.
Salangai poojai adalah kesempatan pertama ketika seorang penari klasik India diberikan gelang kaki oleh gurunya setelah dia menampilkan serangkaian tarian yang dipelajari di hadapan penonton.
Setelah upacara, siswa dapat memulai studi tarian yang lebih serius dan lebih lanjut. Dalam bahasa Tamil, salangai berarti gelang kaki dan poojai berarti doa kepada Tuhan.
Menurut tradisi, tidak ada penari klasik yang boleh naik ke panggung untuk tampil dengan gelang kaki sebelum mengambil bagian dalam salangai poojai.
Ke-13 siswa yang mengikuti upacara tersebut berlutut memohon restu dari orang tua dan gurunya Guru Shrimathi Uma Thevi Sivabalan sebelum presentasi.
Para penari memulai malam itu dengan membawakan alaripu (bunga yang bertunas) di mana mereka memberi hormat kepada dewa, guru, dan penonton. Itu merupakan pemanasan untuk mempersiapkan diri menghadapi penampilan yang lebih giat di masa depan.
Para siswa menari dengan total dua belas lagu. Mereka menampilkan serangkaian tarian yang menggambarkan Sri Krishna dan tindakan nakalnya bersama Radha, Jathiswaram dan Thillana sebelum diakhiri dengan Mangala Slokam selama acara dua jam tersebut. Terdapat orkestra live yang terdiri dari seorang vokalis diiringi oleh instrumentalis yang memainkan biola, seruling, mirudangam (drum) dan nattuvanar yang dianggap sebagai konduktor keseluruhan program.
Guru Shrimathi Uma Thevi Sivabalan mengatakan, Abigail menunjukkan semangat yang besar terhadap Tarian Bharatanatyam sehingga saya menganggapnya sebagai tantangan untuk mengajarinya nuansanya.
“Asal usulnya tidak penting. Yang dibutuhkan hanyalah fisik yang kuat dan jiwa yang baik untuk memahami teknik ini.”
Abigail, yang bergabung dengan Uma Baratha Nrithyam Dance Academy pada tahun 2022, telah berlatih di bawah bimbingan Guru Shrimathi Uma Thevi selama dua tahun terakhir. Saat ini Guru Shrimathi Uma Thevi memiliki lebih dari 250 siswa di bawah bimbingannya dan memimpin kelasnya. (*).






