Stabilitas Harga Terjaga, Inflasi Lampung Juli 2025 Berada Dalam Rentang Sasaran

Bandarlampung – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Lampung pada bulan Juli 2025 mengalami inflasi sebesar 0,19% (mtm). Angka ini meningkat dibandingkan periode Juni 2025 yang mengalami inflasi sebesar
0,04% (mtm).

Namun, realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,30% (mtm) dan sebagian besar provinsi di wilayah Sumatera.

Kepala KPw BI Lampung, Bimo Epiyanto menyampaikan bahwa secara tahunan, IHK di
Provinsi Lampung pada bulan Juli 2025 mengalami inflasi sebesar 2,63% (yoy). “Angka ini lebih tinggi
dibandingkan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 2,27% (yoy) dan inflasi nasional yang
sebesar 2,37% (yoy),” ujarnya, Jumat (1/8).

Dilihat dari sumbernya, kata dia, inflasi pada Juli 2025 utamanya disebabkan oleh peningkatan harga
komoditas kelompok makanan, minuman dan tembakau, utamanya bawang merah, tomat, cabai
rawit, dan beras dengan andil masing-masing sebesar 0,13%; 0,07%; 0,04%; dan 0,03% (mtm).

“Kenaikan harga bawang merah sejalan dengan tertahannya produksi bawang merah di sentra produksi Jawa Barat akibat musim gadu dan hama penyakit tanaman pasca hujan,” kata dia.

Ia juga menyampaikan, adapun kenaikan harga cabai rawit dipicu penurunan volume produksi akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung dan belum masuknya masa panen di sentra produksi di Provinsi Lampung.

“Sementara itu, Kenaikan harga beras sejalan dengan masuknya musim tanam gadu menjelang panen kedua di bulan September-Oktober,” kata dia

Lebih lanjut, inflasi yang lebih tinggi pada Juli 2025 tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami deflasi, utamanya bawang putih, daging ayam ras, dan susu cair kemasan dengan andil
masing-masing sebesar -0,06%; -0,03%; dan -0,02% (mtm).

“Penurunan harga bawang putih
didukung oleh kelancaran pasokan pasca realisasi impor pada bulan sebelumnya yang turut menjaga
stabilitas distribusi di pasar domestik,” ujarnya.

Adapun penurunan harga daging ayam ras terjadi seiring kenaikan pasokan ayam hidup pada tingkat produsen di tengah permintaan yang relatif stabil. Sejalan dengan itu, penurunan harga susu cair kemasan juga dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga yang
relatif stabil.

Ke depan, KPw BI Provinsi Lampung memprakirakan bahwa inflasi di Provinsi Lampung akan tetap terjaga pada rentang sasaran inflasi 2,5±1% (yoy) sepanjang tahun 2025. Namun, beberapa risiko perlu diwaspadai dan dimitigasi, diantaranya dari Inflasi Inti (Core Inflation) berupa (i) peningkatan permintaan agregat sebagai dampak dari kenaikan UMP sebesar 6,5% yang direalisasikan secara bertahap pada tahun 2025; dan (ii) berlanjutnya kenaikan harga emas dunia seiring meningkatnya
ketidakpastian geopolitik dan sentimen kebijakan ekonomi Amerika Serikat.

Selanjutnya dari sisi Inflasi
makanan yang bergejolak (Volatile Food) adalah (i) peningkatan harga beras menjelang masuknya
musim panen gadu di bulan September-Oktober; dan (ii) prakiraan curah hujan rendah hingga menengah pada Agustus 2025 yang berisiko mengganggu produksi hortikultura, khususnya komoditas sensitif seperti cabai dan bawang (BMKG, 20 Juli 2025). Adapun risiko dari inflasi harga yang diatur pemerintah (Administered Price) yang perlu dicermati adalah kenaikan harga minyak dunia dipicu potensi gangguan pasokan global, sejalan dengan meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur
Tengah.

Meninjau perkembangan inflasi bulan berjalan dan mempertimbangkan risiko inflasi ke depan, Bank Indonesia dan TPID Provinsi Lampung akan terus melanjutkan upaya menjaga stabilitas harga melalui strategi 4K. “Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi efektif,” tutupnya. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *