Dua Hari di Ujung Uji, Kami Lulus di Gerbang Utama

Ketegangan, Tawa, dan Marwah Jurnalistik di UKW XXXVII PWI Lampung

Bandar Lampung — Dua hari yang terasa panjang, menegangkan, sekaligus penuh cerita. Itulah potret Uji Kompetensi Wartawan (UKW) ke-XXXVII PWI Lampung Tingkat Utama yang digelar pada 11–12 Desember 2025. Bagi kami para peserta, UKW bukan sekadar ujian formal, melainkan fase penting pembuktian diri untuk layak menyandang predikat wartawan utama—setingkat pemimpin redaksi.

Sejak awal, atmosfer kompetisi terasa kental. Bukan hanya adu pengetahuan dan pengalaman jurnalistik, tetapi juga adu ketenangan. Ketegangan itu nyata. Dari berlima peserta, nyaris tak ada yang benar-benar tenang. Ada yang bolak-balik ke toilet hingga belasan kali dalam sehari, ada yang rambutnya seolah berdiri karena gugup, bahkan ada yang mendadak lupa nomor telepon sendiri. Semua menjadi cerita kecil di balik meja ujian yang serius.

Namun di balik rasa tegang itu, ada juga tawa-tawa kecil. Para penguji ternyata tidak segalak yang dibayangkan. Justru ketegasan mereka dibalut profesionalisme dan suasana dialog yang menguji nalar, etika, serta integritas sebagai wartawan senior.

“UKW ini bukan soal pintar atau tidak, tapi soal konsistensi menjaga etika dan tanggung jawab profesi,” ujar Kusmawati dari Bacageh. Ia mengaku UKW Tingkat Utama membuatnya kembali bercermin sebagai jurnalis. “Kita diuji bukan hanya karya, tapi juga sikap. Deg-degan itu pasti, tapi justru di situlah kita diuji sebagai wartawan yang matang,” katanya.

Hal senada disampaikan Nurjanah dari Harian Momentum. Menurutnya, UKW menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang di dunia jurnalistik. “Saya merasakan tekanan luar biasa, tapi juga rasa syukur. UKW ini mengingatkan bahwa jabatan atau pengalaman panjang tidak otomatis membuat kita benar, kalau tidak berpegang pada kode etik,” tuturnya.

Sementara Muslim dari Serambilampung.com menilai UKW Tingkat Utama sebagai ujian mental sekaligus moral. “Pertanyaannya tajam, studi kasusnya nyata. Kita dipaksa jujur pada diri sendiri: apakah kita sudah layak disebut wartawan utama? Alhamdulillah, proses ini sangat berharga,” ujarnya.

Di akhir ujian, rasa tegang itu akhirnya luruh. Alhamdulillah, kami berlima dinyatakan kompeten sebagai Wartawan Utama. Sebuah capaian yang bukan hanya gelar, tetapi amanah.

Penguji UKW, Iskandar Zulkarnain, Wakil Sekretaris Jenderal PWI Pusat, berpesan agar kelulusan ini tidak berhenti pada sertifikat. “Wartawan utama harus menjadi teladan. Jaga etika, jaga integritas, dan jangan pernah menggadaikan marwah jurnalistik untuk kepentingan apa pun,” tegas Iskandar Z.

Ia menekankan bahwa di tengah derasnya arus informasi dan godaan pragmatisme, wartawan utama justru dituntut semakin tegak lurus pada kebenaran. “Kompeten itu bukan akhir, tapi awal tanggung jawab yang lebih besar,” katanya.

Adapun lima wartawan yang dinyatakan kompeten UKW Tingkat Utama adalah Sandi Dwi Cahyo (Koran Editor), Herwanda Pratama (Kupas Tuntas), Kusmawati (Bacageh), Nurjanah (Harian Momentum), dan Muslim (Serambilampung.com).

Semoga ilmu dan pengalaman selama UKW menjadi pengingat untuk terus menjaga martabat profesi, bekerja dalam koridor Kode Etik Jurnalistik, dan tetap berpihak pada kepentingan publik. Selamat bagi seluruh peserta UKW Utama. Semoga amanah. Aamiin. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *