Doa, Canda, dan Soliditas Pers

Ucapan Ulang Tahun Mengalir untuk Ketua IJP, Dari Subuh hingga Siang Hari

Pagi itu, Senin 15 Desember, ruang-ruang percakapan para jurnalis Lampung terasa berbeda. Sejak pukul 06.30 WIB, pesan demi pesan mengalir deras—bukan soal rapat redaksi, bukan pula breaking news—melainkan doa dan ucapan ulang tahun untuk sosok yang akrab disapa Abung Mamasa, Ketua Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP).

“Panjang umur, sehat selalu, murah rezeki dan berkah,” tulis salah satu rekan, disusul ucapan lain yang tak kalah hangat. Dari wartawan cetak, online, televisi, hingga komunitas pers lintas media, semua hadir dalam satu irama: doa, harapan, dan keakraban.

Ada yang serius, ada yang penuh kelakar.
“Semoga makin jaya di darat, laut, dan udara,” tulis seorang jurnalis, disambut tawa virtual.
“Panjang, besar, dan tajam,” sahut yang lain, yang langsung dibalas Abung dengan candaan khasnya, membuat suasana kian cair.

Namun di balik canda itu, terselip makna yang dalam. Ucapan-ucapan tersebut bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan cermin soliditas dan rasa hormat kepada seorang pemimpin organisasi pers yang dikenal egaliter, terbuka, dan merangkul semua.

Sepanjang pagi hingga siang, doa terus mengalir:
Barakallah fii umrik, sehat lahir batin, sukses dunia akhirat.
Dilancarkan segala urusan, diberi kekuatan menjaga amanah.
IJP solid, ketua tetap epic.

Menariknya, tak ada jarak hierarki. Ketua membalas hampir setiap ucapan dengan singkat, hangat, dan penuh tawa—“Aamiin”, “Siap”, atau sekadar emotikon senyum. Sesekali, ia ikut melempar gurauan, seolah menegaskan bahwa kepemimpinan tak selalu harus kaku.

Puncaknya, menjelang siang, ajakan sederhana dilontarkan: makan siang bareng sambil bernyanyi. Tak semua bisa hadir—ada yang liputan, ada yang sakit, ada yang urusan keluarga—namun itu tak mengurangi makna hari tersebut. Sebab yang dirayakan bukan pesta, melainkan kebersamaan.

Ulang tahun Abung IJP hari itu menjadi lebih dari sekadar penambahan usia. Ia menjelma ruang silaturahmi, tempat para jurnalis saling menyapa di tengah kerasnya ritme profesi. Sebuah jeda singkat, untuk mengingat bahwa di balik berita dan deadline, ada persaudaraan yang terus dijaga.

Dan seperti doa yang paling sering diucapkan hari itu:
Semoga sehat selalu, panjang umur, dan tetap menjadi pengikat soliditas insan pers Lampung. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *