Bandar Lampung — Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan peningkatan produksi pertanian hingga 30 persen sebagai langkah strategis memperkuat ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Kebijakan tersebut menjadi salah satu fokus utama Pemprov Lampung yang disampaikan dalam Kaleidoskop Pembangunan Provinsi Lampung Tahun 2025 di Mahan Agung, Rumah Dinas Gubernur Lampung, Minggu (28/12/2025).
Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Wakil Gubernur Jihan Nurlela, Sekretaris Daerah Provinsi Marindo Kurniawan, serta jajaran kepala OPD di lingkungan Pemprov Lampung.
Gubernur yang akrab disapa Mirza menegaskan, sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung perekonomian Lampung. Provinsi ini memiliki keunggulan komparatif pada sejumlah komoditas strategis yang telah menempati posisi nasional hingga internasional.
“Padi peringkat lima nasional, tebu nomor dua, udang nomor dua, kopi ekspor nomor satu dunia, sapi dan kambing nomor tiga nasional, serta singkong nomor satu Indonesia dengan kontribusi sekitar 75 persen,” ujar Mirza.
Dengan luas lahan pertanian hampir 1,5 juta hektare dan nilai kekayaan sektor perkebunan serta perikanan yang diperkirakan mencapai Rp140 triliun, Mirza mengakui potensi besar tersebut belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
PDRB Lampung sepanjang 2024 tercatat Rp484 triliun, atau rata-rata sekitar Rp4 juta per bulan per penduduk. Namun, indikator kesejahteraan seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan tingkat kemiskinan masih menjadi tantangan.
“IPM kita masih rendah. Sekitar 40 ribu lulusan SMP tidak melanjutkan ke SMA. Kemiskinan masih 10 persen, di atas rata-rata nasional 8 persen,” jelasnya.
Selain persoalan sumber daya manusia, Mirza menyoroti masih besarnya arus keluar komoditas Lampung dalam bentuk bahan mentah yang menyebabkan rendahnya nilai tambah dan kecilnya kontribusi terhadap PAD.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov Lampung menata ulang strategi pembangunan dengan menekan arus keluar bahan mentah sekaligus meningkatkan produksi dan nilai tambah di dalam daerah.
Salah satu langkah konkret adalah pemanfaatan pupuk organik cair. Pada 2025, pupuk tersebut disalurkan ke 500 desa, dan akan diperluas ke 2.000 desa pada 2026 dengan anggaran sekitar Rp16 miliar.
“Kami targetkan produksi padi naik dari 2,7 juta ton menjadi 3,2 juta ton, dan jagung dari 2,78 juta ton menjadi sekitar 3 juta ton,” kata Mirza.
Selain itu, luas lahan pertanian yang digarap juga ditargetkan meningkat signifikan, dari sekitar 400 ribu hektare pada 2025 menjadi 1 juta hektare pada tahun berikutnya.
“Kami berharap kebijakan ini mampu meningkatkan hasil panen, memperkuat ketahanan pangan, menekan ketimpangan ekonomi desa–kota, serta mendorong perputaran ekonomi daerah agar lebih dinikmati masyarakat Lampung,” tutup Mirza. (DBS).






