SEKITAR dua jam menjelang pergantian tahun 2026, Rahmat Mirzani Djausal menutup hari panjangnya dengan cara yang sunyi. Setelah seharian bergulat dengan urusan pemerintahan, Gubernur Lampung itu memilih beritikaf di teras Masjid Al-Amin, Pahoman, Bandarlampung.
Gerimis turun perlahan ketika Mirza—yang akrab disapa Iyay—melangkah masuk ke pelataran masjid. Wajahnya tampak segar, jauh dari kesan lelah. Di tangan kanannya, tasbih terus berputar, seiring obrolan hangat bersama para jamaah. Tak ada sekat jabatan. Tak ada protokoler. Hanya lingkar kecil manusia dengan tujuan yang sama: mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Majelis sederhana itu mengalir tanpa skenario. Ada tawa kecil, ada kisah hidup, ada renungan. Jamaah datang dari beragam latar, duduk setara, dipersatukan suasana yang terasa seperti kopi hangat di malam hujan—jujur dan menenangkan.
Tak lama, anak-anak Mirza menyusul. Mereka menyalami satu per satu jamaah yang lebih dulu ditempa usia dan pengalaman. Pemandangan sederhana itu menghadirkan kesejukan tersendiri. Masjid malam itu benar-benar menjadi rest area di jalan panjang kehidupan.

“Hidup ini sementara, akhirat selamanya,” ucap H. Darussalam, SH, MH, yang malam itu turut larut dalam perenungan.
Waktu bergerak menuju tengah malam. Dentuman petasan dan kilau kembang api masih terdengar di kejauhan, memecah sunyi pergantian tahun. Mirza memilih diam. Tak mengomentari, apalagi menyalahkan.
Dengan gamis biru sederhana dan tasbih yang tak berhenti berputar, doa-doa dipanjatkan lirih. Beberapa hari sebelumnya, Mirza memang telah mengajak masyarakat menjadikan malam tahun baru sebagai momen kebersamaan keluarga, tanpa euforia berlebihan yang berisiko pada keselamatan.
“Tahun baru tidak harus dirayakan dengan petasan atau kembang api. Yang terpenting adalah maknanya—kebersamaan, empati, ketertiban, dan keselamatan,” ujarnya.
Malam belum usai ketika suara petasan mulai jarang terdengar. Jamaah merebahkan diri sejenak, bersiap menyambut tahajud, zikir, dan doa. Harapan dipanjatkan agar 2026 membawa cahaya baru, setelah 2025 dilalui dengan efisiensi dan beban negara yang terasa berat.
Usai salat Subuh dan sarapan bersama, kebersamaan tetap berlanjut. Tanpa notulen, tanpa panggung, sejumlah niat sederhana disepakati: menjaga konsistensi di jalan-Nya.
Di teras masjid itu, tahun baru tak dirayakan dengan hingar-bingar. Ia disambut dengan kesunyian yang penuh makna. Selamat datang 2026—harapan baru. (DBS).






