Sonny Pergi, Api Perjuangan Tetap Menyala

Dunia Sepak Bola Lampung Kehilangan Pejuang Sunyi Persatuan Suporter

BANDAR LAMPUNG — Sabtu, 31 Januari 2026, menjadi hari berkabung bagi sepak bola Lampung. Sonny Ashadel Kumontoy berpulang, meninggalkan kesedihan mendalam yang tak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga ribuan suporter dan insan sepak bola di Sai Bumi Ruwa Jurai. Sosok yang selama ini dikenal sebagai Ketua Elbhara (Elemen Bhayangkara) Lampung itu bukan sekadar pendukung klub, melainkan penjaga semangat persatuan di tribun dan di luar lapangan.

Bagi banyak orang, Sonny adalah wajah ketulusan dalam mencintai sepak bola daerah. Ia hadir di setiap momentum, menggerakkan barisan suporter, merajut kebersamaan lintas elemen, dan konsisten menyuarakan sepak bola Lampung yang sehat, profesional, serta berdaya saing nasional.

Ketua Sikambara Lampung, Junaedi, tak mampu menyembunyikan rasa kehilangan atas wafatnya sahabat sekaligus pejuang sepak bola Lampung tersebut.

“Kami dari Sikambara Lampung menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya. Almarhum adalah sosok yang tulus mencintai sepak bola Lampung. Dedikasi dan semangatnya untuk kemajuan klub serta persatuan antar-suporter menjadi teladan bagi kita semua,” ujar Junaedi dengan suara bergetar.

Menurut Junaedi yang juga Ketua Pajero Indonesia One Chapter Krakatau ini, Sonny bukan hanya aktif dalam berbagai kegiatan suporter, tetapi juga memiliki visi besar tentang masa depan sepak bola Lampung. Ia percaya, sepak bola hanya bisa tumbuh jika didukung oleh suporter yang dewasa, solid, dan menjunjung tinggi sportivitas.

“Almarhum selalu mengingatkan kami bahwa rivalitas tidak boleh memutus persaudaraan. Sepak bola Lampung harus maju bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri,” tambah CEO RM Minang Indah Grup ini.

Kabar wafatnya Sonny pertama kali diketahui melalui unggahan status pada nomor WhatsApp pribadinya. Dalam pesan singkat namun sarat duka itu, pihak keluarga menyampaikan kabar kepergian almarhum, disertai permohonan maaf atas segala khilaf semasa hidup serta doa agar Sonny mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Sejak kabar itu beredar, ucapan belasungkawa dan doa mengalir dari berbagai elemen suporter, klub, hingga pemerhati sepak bola di Lampung. Media sosial dipenuhi kenangan tentang sosok Sonny—tentang loyalitasnya, konsistensinya, dan kesederhanaannya dalam mengabdi tanpa pamrih.

Kini Sonny memang telah pergi. Namun semangat yang ia tanamkan—tentang persatuan, kecintaan, dan harapan akan sepak bola Lampung yang lebih bermartabat—tetap hidup. Api perjuangan itu akan terus menyala di setiap tribun, di setiap nyanyian, dan di setiap langkah mereka yang melanjutkan cita-citanya. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *