Di Teras Masjid Al Amin, Gubernur Mirza Duduk Setara Bersama Rakyat
BANDARLAMPUNG —
Di teras Masjid Al Amin, Pahoman, Kota Bandarlampung, sekat-sekat sosial yang kerap tegak di ruang publik seolah runtuh tanpa suara. Tak ada kursi kehormatan. Tak ada meja panjang. Yang ada hanya tikar, satu nampan, dan tangan-tangan yang menjulur dari arah yang sama.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, mengenakan jaket hitam, duduk sejajar dengan siapa saja: pengusaha, wartawan, aktivis, generasi muda, pengurus masjid, hingga pensiunan “lah lamo”. Semua menunduk, semua menyantap hidangan yang sama, dari satu talam yang sama.
Pemandangan itu bukan seremoni. Ia adalah laku yang dijaga, dilatih, dan diulang dengan kesadaran—setidaknya setiap pekan. Setelah siraman rohani, salat, dan doa-doa dipanjatkan, nasi hangat dan lauk sederhana menjadi penutup yang justru paling bermakna: makan bersama.
Tokoh Batanghari Sembilan H. Darussalam, SH, MH, menyebut tradisi itu sebagai pendidikan sosial yang hidup.
“Di satu nampan ini, kita belajar menurunkan ego. Tak ada jabatan, tak ada sekat. Yang ada adab, syukur, dan rasa saling menghormati. Ini bukan soal makan, tapi soal membangun hati,” ujar H. Darussalam.
Menurutnya, kebersamaan semacam ini adalah cara paling sederhana namun paling jujur untuk merawat persaudaraan.
“Ketika gubernur duduk sejajar dengan rakyat, ketika semua tangan mengambil dari hidangan yang sama, di situlah pesan keadilan sosial itu terasa nyata, bukan sekadar wacana,” tambahnya.
Nasi putih dan lauk sederhana di teras masjid itu bukan sekadar pengganjal lapar. Ia menjadi pelajaran yang dimakan perlahan. Di setiap suapan, ada ego yang diturunkan. Di setiap jeda, ada adab yang dipelajari tanpa perlu guru bicara.
Dalam ajaran Islam, kebersamaan adalah pintu keberkahan. Rasulullah SAW mencontohkan makan bersama para sahabat tanpa membedakan status. Hadis tentang keberkahan makan bersama hidup bukan sebagai kutipan di dinding, melainkan sebagai laku yang dikerjakan.
Beginilah majelis menjaga jarak agar tetap dekat. Menyatukan perut supaya hati tak saling menjauh. Dalam satu talam, semua kembali setara—tak ada yang lebih dahulu kecuali adab, tak ada yang lebih banyak kecuali syukur.
H. Darussalam menegaskan, tradisi ini juga sejalan dengan kearifan lokal Nusantara.
“Di Lampung, Sumatra, Jawa, kita punya kenduri, bancakan, berkat. Islam tidak menghapusnya, tapi memurnikannya. Niat diluruskan, doa dipanjatkan, kebersamaan diteguhkan,” katanya.
Makan bersama itu menjadi jembatan antara langit dan bumi—antara nilai agama dan kearifan lokal. Ia menghapus jarak yang sering kali tak sanggup dihapus pidato. Yang jarang bicara menemukan ruang untuk tersenyum. Yang sedang susah merasa tidak sendirian. Yang berkecukupan belajar menundukkan hati.
Ketika majelis bubar dan tikar digulung, yang tertinggal bukan hanya rasa kenyang. Ada ikatan yang menguat, ada hati yang dipeluk kebersamaan.
Di teras Masjid Al Amin, satu nampan menjadi saksi sunyi: bahwa kemuliaan bukan pada apa yang dimakan, melainkan pada siapa yang diajak berbagi. (*).






