Per 2 Februari 2026 Hanya 1,90 Persen, Deflasi Awal Tahun Perkuat Daya Beli
Bandar Lampung — Provinsi Lampung kembali mencatatkan kinerja ekonomi positif dengan meraih inflasi terendah secara nasional per 2 Februari 2026. Berdasarkan Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Lampung secara year-on-year (y-on-y) tercatat 1,90 persen, jauh di bawah inflasi nasional yang mencapai 3,55 persen.
Capaian ini menempatkan Lampung di posisi paling rendah dibandingkan seluruh provinsi di Indonesia. Sebagai perbandingan, Aceh mencatat inflasi tertinggi sebesar 6,69 persen, disusul Sulawesi Tenggara 5,10 persen dan Papua Barat 5,02 persen. Bahkan wilayah dengan aktivitas ekonomi besar seperti DKI Jakarta mengalami inflasi 3,96 persen, lebih dari dua kali lipat Lampung.
Rendahnya inflasi tersebut mencerminkan terjaganya stabilitas harga barang dan jasa, terutama kelompok kebutuhan pokok. Kondisi ini menjadi bantalan penting bagi daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi nasional dan tekanan global yang masih berlangsung.
Tak hanya mencatat inflasi terendah, Lampung juga mengalami deflasi sebesar 0,07 persen (month to month/mtm) pada Januari 2026. Angka ini berbalik arah dibandingkan Desember 2025 yang mencatat inflasi 0,59 persen, sekaligus menandai terkendalinya tekanan harga pada awal tahun. Deflasi Lampung bahkan lebih dalam dibandingkan deflasi nasional yang tercatat 0,15 persen (mtm).
Pasokan Pangan Melimpah
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung menilai deflasi Januari terutama dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan dan transportasi. Deputi Direktur KPw BI Lampung, Achmad P. Subarkah, menyebut melimpahnya pasokan hortikultura menjadi faktor utama penahan inflasi.
“Deflasi Januari 2026 terutama didorong oleh peningkatan pasokan cabai merah dan cabai rawit yang memasuki masa panen di beberapa sentra produksi, serta turunnya harga bawang merah dan penyesuaian harga BBM non-subsidi,” ujar Achmad dalam keterangan resminya, Selasa (3/2/2026).
BPS mencatat, cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,25 persen, disusul bawang merah minus 0,12 persen dan cabai rawit minus 0,06 persen. Dari kelompok nonpangan, turunnya harga bensin turut menahan laju inflasi.
Namun, tekanan deflasi tertahan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama emas perhiasan serta beberapa sayuran seperti tomat, kangkung, dan bayam. Kenaikan harga emas dipengaruhi tren harga global dan ketidakpastian ekonomi dunia, sementara harga sayuran terdorong gangguan produksi akibat curah hujan tinggi.
Inflasi Tetap Terkendali
Ke depan, Bank Indonesia optimistis inflasi Lampung tetap berada dalam koridor sasaran nasional.
“Kami memprakirakan inflasi Provinsi Lampung pada 2026 tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen. Namun, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri,” kata Achmad.
Risiko tersebut meliputi penyesuaian Upah Minimum Provinsi (UMP), peningkatan mobilitas masyarakat, potensi gangguan panen akibat La Nina lemah, serta dinamika harga energi dan pangan global.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Lampung terus memperkuat strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, melalui operasi pasar, penguatan kerja sama antardaerah, serta perbaikan distribusi dan infrastruktur logistik.
Capaian inflasi terendah nasional ini sekaligus menegaskan posisi Lampung sebagai daerah dengan stabilitas harga yang solid di awal 2026—modal penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah. (*).






