Ketika Modernisasi Datang, Pikukuh Karuhun Tetap Tegak Berdiri
Lebak — Di saat dunia berlomba mengejar kecepatan, masyarakat adat Baduy justru memilih berjalan perlahan. Di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, denyut modernisasi yang kian deras tak mampu menggoyahkan pikukuh karuhun—amanat leluhur yang menjadi fondasi hidup orang Baduy dari generasi ke generasi.
Komitmen itu ditegaskan oleh tokoh adat Baduy Luar, Kang Udil. Bagi masyarakat Baduy, adat bukan sekadar warisan budaya, melainkan penopang keseimbangan hidup antara manusia dan alam.
“Kami hidup bukan untuk mengejar banyak. Kami hidup untuk menjaga titipan. Tanah tidak boleh dijual, hutan tidak boleh ditebang sembarangan, dan kami bertani tanpa bahan kimia. Itu tidak boleh berubah,” ujar Kang Udil saat berbincang dengan belasan pewarta Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung, Selasa (10/2).
Masyarakat Baduy terbagi dalam dua wilayah adat: Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Luar menjadi penyangga, membuka ruang interaksi dengan dunia luar, termasuk menerima wisatawan serta menjual hasil alam seperti kain tenun, madu hutan, dan gula aren. Namun keterbukaan itu tetap berpagar adat.
“Kami tidak menolak tamu. Tapi tamu harus menghormati adat. Kalau adat rusak, kami kehilangan jati diri,” tegas Kang Udil.
Berbeda dengan Baduy Luar, Baduy Dalam menjalani kehidupan yang jauh lebih ketat. Tanpa listrik, kendaraan, dan alat elektronik, warga hidup sederhana dengan bertani tradisional serta menjaga hutan larangan yang tak boleh disentuh.
“Kami diajarkan untuk tidak rakus. Ambil secukupnya, tanam kembali, jaga alam seperti menjaga orang tua,” tambahnya.
Komitmen menjaga adat itu mendapat dukungan pemerintah daerah. Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Lebak, Bambang SP, menegaskan perlindungan masyarakat adat Baduy telah diperkuat melalui Peraturan Daerah (Perda).
“Baduy adalah identitas Lebak. Mereka bukan sekadar destinasi wisata, tetapi komunitas adat dengan sistem nilai dan hukum yang hidup. Negara wajib hadir untuk melindungi,” ujarnya.
Menurut Bambang, penguatan wilayah adat, perlindungan hutan, serta pengawasan aktivitas luar menjadi kunci agar pembangunan tidak berbenturan dengan nilai budaya.
“Pembangunan tidak boleh memaksa perubahan budaya. Modernisasi harus menghormati batas adat. Pemerintah harus menjadi mitra dialog, bukan tekanan,” tegasnya.
Kunjungan belasan pewarta IJP Lampung ke Kanekes turut menjadi ruang refleksi. Ketua IJP Lampung Abung Mamasa mengapresiasi komitmen masyarakat Baduy yang konsisten menjaga alam dan adat di tengah gempuran zaman.
“Apa yang kami lihat di Baduy bukan sekadar tradisi, tetapi contoh nyata bagaimana alam dan budaya dijaga dengan konsisten,” ujarnya.
Ia berharap, kehadiran insan pers dapat menjadi jembatan informasi agar publik kian memahami pentingnya perlindungan masyarakat adat sebagai bagian dari jati diri bangsa.
“Baduy sudah mendunia. Semoga kita semua bisa ikut menjaga kelestarian alam, adat, dan budayanya,” tutup Abung. (*)






