Final Liga 4 Lampung Diwarnai Adu Jotos, Evaluasi Wasit Mengemuka

Bandar Lampung — Laga final Liga 4 Lampung yang semestinya menjadi pesta sepak bola daerah justru ternoda insiden adu jotos antarpemain. Cuplikan video kericuhan yang beredar luas di media sosial memantik perdebatan publik, termasuk di kalangan pelaku dan pemerhati sepak bola Lampung.

Dalam video yang beredar, terlihat seorang pemain berbaju hitam melakukan aksi tamparan setelah terjadi kontak fisik di lapangan. Insiden tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak yang menilai pertandingan tidak lagi mencerminkan sportivitas.

Pelatih sepak bola asal Lampung, Dino Sefriyanto, menilai kejadian itu jauh dari karakter modern football yang menjunjung tinggi profesionalitas. “Ini sudah di luar tipikal pemain modern. Harus ada evaluasi dan sanksi agar ke depan tidak terulang,” ujarnya seperti dikutip dalam WAG Sikambara, Sabtu (14/2/2026).

Ia juga mempertanyakan kepemimpinan wasit dalam laga tersebut. Beberapa pihak menyebut wasit telah mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang melakukan pemukulan. Namun, kontroversi muncul karena pemain lawan yang sebelumnya telah mengantongi kartu kuning juga diganjar kartu, sehingga keduanya harus meninggalkan lapangan.

Pihak manajemen klub Angonsaka angkat bicara. Mereka mengakui pemainnya melakukan tindakan refleks akibat terpancing emosi. “Kami menyesalkan kejadian itu. Pemain kami memang salah dan langsung mendapat kartu merah. Tapi kami berharap publik melihat kejadian secara utuh, bukan dari potongan video,” ujar perwakilan tim.

Sementara itu, sejumlah pecinta bola Lampung menyayangkan kericuhan di partai puncak. “Olahraga harusnya meningkatkan sportivitas, bukan kekerasan. Kalau kemenangan lebih penting dari nilai sportivitas, hasilnya seperti ini,” ujar salah satu pemerhati sepak bola daerah.

Sorotan juga mengarah pada kesiapan panitia dan perangkat pertandingan. Evaluasi terhadap kepemimpinan wasit serta manajemen pertandingan dinilai penting agar kompetisi amatir di Lampung lebih tertata dan profesional.

Meski diwarnai insiden, Liga 4 Lampung tetap melahirkan juara. Ucapan selamat mengalir kepada tim yang berhasil menembus putaran nasional. Namun, banyak pihak berharap peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi Asprov PSSI Lampung untuk membenahi kualitas kompetisi, mulai dari perangkat pertandingan, regulasi disiplin, hingga pembinaan karakter pemain sejak level amatir.

Sepak bola Lampung dinilai memiliki potensi besar. Dengan pembenahan menyeluruh dan komitmen bersama, publik berharap ke depan kompetisi daerah mampu melahirkan klub dan pemain yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga menjunjung tinggi sportivitas dan profesionalisme. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *