Hasbullah: Puasa Latih Integritas, Empati, dan Tanggung Jawab Kebangsaan
PRINGSEWU — Bulan suci Ramadhan tidak sekadar ritual tahunan yang sarat nuansa spiritual, tetapi merupakan ruang pembentukan karakter kebangsaan yang utuh. Hal itu ditegaskan Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu, Hasbullah, yang menyebut Ramadhan sebagai “laboratorium besar” untuk menempa etos beragama sekaligus etos bernegara.
Menurut Hasbullah, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan radikal pengendalian diri yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan demokrasi.
“Shaum itu bukan hanya memindahkan jam makan. Ia adalah latihan pengendalian diri. Dalam konteks bernegara, kontrol diri adalah fondasi demokrasi. Tanpa itu, kebebasan bisa berubah menjadi anarki, dan hak bisa berbenturan dengan egoisme,” ujar Hasbullah, Sabtu (22/2).
Ia menjelaskan, pengalaman menahan lapar sejatinya merupakan simulasi empirik untuk merasakan penderitaan sesama. Dari situlah empati tumbuh, bukan sekadar sebagai konsep, tetapi sebagai kesadaran sosial yang hidup.
“Rasa lapar yang kita alami seharusnya bertransformasi menjadi keberpihakan pada kebijakan publik yang melindungi kaum lemah. Empati yang lahir dari Ramadhan adalah benih etos bernegara yang sesungguhnya,” tegasnya.
Ruang Kesetaraan dan Kejujuran
Hasbullah juga menyoroti dimensi sosial dalam tradisi sahur dan berbuka puasa. Kebersamaan di meja makan tanpa memandang latar belakang sosial mencerminkan cita-cita kesetaraan dalam kehidupan berbangsa.
“Di hadapan Tuhan semua manusia setara. Dalam negara hukum, idealnya pun demikian. Ramadhan mengajarkan kita duduk bersama dalam persaudaraan, tanpa sekat status dan golongan,” katanya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa puasa adalah ibadah paling privat, di mana kejujuran menjadi inti. Jika nilai kejujuran itu dibawa ke ruang publik, maka integritas pejabat dan warga negara akan terjaga.
“Orang yang benar-benar memahami filosofi puasa tidak akan mudah mengkhianati amanah. Ia merasa diawasi bukan hanya oleh sistem, tetapi oleh Tuhan,” ujarnya.
Instrumen Keadilan Sosial
Zakat fitrah dan sedekah yang masif di bulan Ramadhan, lanjutnya, merupakan instrumen redistribusi ekonomi yang nyata. Dalam perspektif kebangsaan, semangat itu sejalan dengan kewajiban pajak dan gotong royong demi keadilan sosial.
“Dalam setiap harta ada hak orang lain. Ini etika ekonomi yang luar biasa. Kalau nilai ini dihidupkan, maka cita-cita keadilan sosial bukan sekadar slogan,” kata Hasbullah.
Ia juga memaknai shalat tarawih berjamaah sebagai simbol keteraturan dan harmoni kepemimpinan.
“Gerakan yang serempak mengikuti imam mengajarkan disiplin dan koordinasi. Negara yang kuat membutuhkan rakyat yang tertib dan pemimpin yang mengarahkan pada kemaslahatan,” jelasnya.
Kualitas di Atas Kuantitas
Momentum Lailatul Qadar, menurutnya, menjadi simbol pencarian kualitas di atas kuantitas. Dalam pembangunan bangsa, ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada angka statistik semata, melainkan kualitas kesejahteraan dan moralitas masyarakat.
Selain itu, turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadhan menjadi pengingat pentingnya pedoman dan aturan dalam kehidupan bersama.
“Sebagaimana agama memiliki wahyu sebagai petunjuk, negara memiliki konstitusi dan hukum. Menghormati hukum adalah manifestasi etos beragama dalam ruang sipil,” tegasnya.
Tradisi mudik dan saling memaafkan di penghujung Ramadhan juga dinilainya sebagai simbol rekonsiliasi dan kepulangan pada jati diri bangsa.
“Kita perlu ‘pulang’ pada nilai-nilai luhur kebangsaan. Di tengah polarisasi politik, semangat pemaafan Ramadhan bisa menjadi perekat retakan sosial,” katanya.
Hasbullah menutup dengan ajakan agar Ramadhan tidak dipandang dangkal sebagai ritual tahunan semata.
“Ramadhan adalah madrasah terbaik untuk mencetak insan kamil yang nasionalis. Ketika Idul Fitri tiba, kita tidak hanya kembali suci secara spiritual, tetapi juga lebih militan dalam mencintai dan membangun tanah air,” pungkasnya. (*).






