BANDAR LAMPUNG – Di tengah padatnya agenda sebagai Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Mukhlis Basri memilih berada di ruang-ruang sunyi penuh doa. Hari ini, Selasa (3/3/2026), ia melayat ke Rumah Sakit Immanuel Bandar Lampung dan bertakziah di rumah salah satu warga di Sukarame, Bandar Lampung.
Dua warga yang berpulang tersebut diketahui berasal dari Kecamatan Kebun Tebu dan Gedung Surian, Kabupaten Lampung Barat. Mukhlis datang tanpa protokoler berlebihan. Ia duduk bersama keluarga, menyampaikan doa dan penguatan.
“Kehadiran kita mungkin tidak bisa menghapus duka, tapi setidaknya bisa menguatkan hati keluarga yang ditinggalkan. Politik itu harus punya empati,” ujar Mukhlis lirih.
Bagi mantan Bupati Lampung Barat itu, menjenguk dan melayat bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari nilai kemanusiaan yang tak boleh luntur oleh jabatan.
“Sebagai wakil rakyat, saya ingin tetap dekat. Jabatan boleh di pusat, tapi hati harus tetap di tengah masyarakat,” katanya.
Menariknya, di tengah aktivitas kebangsaan di Senayan, Mukhlis baru saja mendapat penugasan sebagai Ketua Ranting PDI Perjuangan Desa Marga Agung. Penugasan itu menegaskan komitmennya untuk tetap berakar di tingkat desa.
“Bagi saya, tidak ada jabatan yang kecil. Ketua ranting pun adalah amanah besar. Justru dari desa, kita merawat ideologi dan kedekatan dengan rakyat,” tegasnya.
Kehadiran Mukhlis di rumah sakit dan rumah duka di Sukarame menjadi gambaran sederhana tentang politik yang membumi. Tanpa panggung, tanpa pidato panjang, hanya doa, genggaman tangan, dan pesan penguatan.
Di antara hiruk-pikuk politik nasional, langkahnya mengingatkan bahwa representasi bukan hanya soal legislasi, tetapi juga soal kehadiran—terutama saat rakyat sedang berduka. (*).






