Tonggak Awal Uji Multilokasi Menuju Kemandirian Pangan
Lampung Tengah – Panen perdana padi galur Mentari digelar di Kampung Mojopahit, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (1/3). Kegiatan ini menjadi tonggak awal tahapan uji multilokasi untuk mengukur produktivitas dan daya adaptasi galur padi tersebut sebelum diajukan sebagai varietas unggul baru.
Panen dilakukan di lahan milik petani setempat, Buang Sutrisno, yang selama satu musim tanam dipercaya mengelola dan merawat padi galur Mentari hingga masa panen. Program uji coba ini diinisiasi oleh Agung Sarwono sebagai bagian dari upaya mendorong inovasi pertanian berbasis komunitas petani.
Menurut Agung, uji multilokasi menjadi tahapan penting untuk memastikan kemampuan adaptasi galur Mentari terhadap kondisi tanah, ketersediaan air, serta dinamika iklim di wilayah Lampung Tengah.
“Uji multilokasi ini bukan sekadar menanam lalu memanen. Tahapan ini menguji konsistensi hasil panen, ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, serta respons genetis tanaman terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil panen perdana menunjukkan indikasi yang menggembirakan baik dari sisi kuantitas gabah maupun kualitas bulir yang dihasilkan.
“Hasil awal cukup positif. Ini menjadi modal data penting untuk melanjutkan proses evaluasi hingga nantinya galur Mentari layak ditetapkan sebagai varietas unggul yang bisa dikembangkan lebih luas,” tambahnya.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Eddy Waluyo yang akrab disapa Gus Wal. Ia menilai penguatan sektor pertanian harus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari petani, penggerak komunitas, hingga organisasi kemasyarakatan.
Menurutnya, pertanian merupakan fondasi penting bagi kemandirian daerah dan bangsa.
“Pertanian adalah fondasi utama kemandirian. Inisiatif dari bawah seperti ini harus terus didorong agar petani memiliki lebih banyak pilihan galur unggul yang sesuai dengan kondisi agroekosistem daerah,” tegasnya.
Dukungan terhadap pengembangan benih unggul lokal juga disampaikan Sugiyanto serta Dian Putera Agrika yang menegaskan pentingnya partisipasi langsung petani dalam proses evaluasi varietas baru.
Sementara itu, Roeslan mengingatkan agar pengembangan benih unggul tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Ia menilai aspek ekologi tidak boleh diabaikan dalam mengejar peningkatan produksi.
“Pengembangan varietas baru harus tetap menjaga keseimbangan ekosistem. Harapannya, jika nanti galur Mentari ditetapkan sebagai varietas resmi, praktik budidayanya tetap sejalan dengan prinsip pertanian organik,” ujarnya.
Panen perdana ini diharapkan menjadi pijakan awal untuk memperluas uji multilokasi padi Mentari di berbagai tipologi lahan di Lampung Tengah, sehingga kelak dapat menjadi salah satu penopang baru bagi ketahanan pangan daerah. (*).






