BANDAR LAMPUNG — Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya melalui Inkubator Bisnis dan Teknologi (Inkubitek) menggelar Coaching Clinic Penyusunan Proposal Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) di Co-Working Space DSC lantai 2, Kamis (12/3/2026). Kegiatan ini menjadi wadah pembekalan bagi mahasiswa dalam menyiapkan proposal bisnis yang kompetitif sekaligus menarik bagi investor.
Kepala UPT Inkubitek IIB Darmajaya, Lilla Rahmawati, hadir sebagai pemateri utama yang memaparkan berbagai strategi penting dalam menyusun proposal bisnis agar mampu bersaing dalam program P2MW.
Menurut Lilla, langkah awal yang harus dilakukan mahasiswa adalah menentukan kategori bisnis yang tepat agar arah proposal lebih jelas dan terarah.
“Mahasiswa harus menentukan kategori bisnis yang sesuai, apakah di bidang food and beverage atau bisnis digital. Pemilihan kategori yang tepat akan mempengaruhi arah penyusunan proposal,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa proposal harus disusun secara sistematis dengan mengikuti panduan yang telah ditetapkan. Kelengkapan serta keakuratan data pendukung dinilai menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kualitas proposal.
Selain itu, mahasiswa juga diminta memahami rubrik penilaian pada setiap kategori yang diikuti. Dengan memahami indikator penilaian tersebut, proposal yang disusun dapat lebih sesuai dengan kriteria yang diharapkan oleh reviewer.
Lilla juga mendorong mahasiswa untuk menyusun proposal dengan perspektif investor. Pendekatan ini dinilai penting agar mahasiswa mampu menilai potensi pengembangan dari ide bisnis yang diajukan.
“Coba tempatkan diri sebagai investor. Apakah ide bisnis ini layak didukung dan memiliki peluang berkembang?” katanya.
Ia menambahkan bahwa proposal sebaiknya memberikan penekanan kuat pada produk yang diusulkan, terutama jika produk tersebut berasal dari hasil riset di perguruan tinggi. Hal tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai inovasi sekaligus memperkuat daya saing proposal.
Dalam kesempatan tersebut, Lilla juga menyinggung pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam penyusunan proposal. Menurutnya, penggunaan Artificial Intelligence diperbolehkan selama tetap mengacu pada panduan penggunaan teknologi tersebut dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi.
“Penggunaan AI boleh saja, tetapi tetap mengacu pada Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi,” jelasnya.
Kegiatan coaching clinic ini disambut antusias oleh mahasiswa yang mengikuti program tersebut. Para peserta tampak aktif berdiskusi serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait pengembangan ide bisnis mereka.
Melalui kegiatan ini, Inkubator Bisnis dan Teknologi IIB Darmajaya berharap mahasiswa semakin siap menyusun proposal bisnis yang inovatif, berkualitas, dan mampu bersaing dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). (**).






