Oleh: Dr. Hasbullah, M.Pd.I
Wakil Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PWM Lampung
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
—
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 tidak boleh sekadar seremoni berbaju adat atau lomba pidato yang kehilangan makna. Kita perlu jujur: wajah pendidikan kita masih seperti puzzle yang berserakan—kecerdasan kognitif, kedalaman spiritual, dan sikap sosial berjalan sendiri-sendiri, bahkan saling membelakangi.
Ironisnya, kita bangga pada capaian seperti Programme for International Student Assessment yang naik turun, tetapi lupa bertanya: apakah anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang beriman, beradab, dan toleran? Mereka mungkin piawai menyelesaikan soal kalkulus, namun gagap berempati terhadap perbedaan identitas, suku, atau keyakinan. Hardiknas seharusnya menjadi cermin, bukan panggung seremonial.
—
Pendidikan yang Terfragmentasi
Selama berdekade-dekade, sistem pendidikan kita terjebak dalam dikotomi menyesatkan. Sekolah berlomba mengejar skor literasi dan numerasi demi peringkat global, seolah manusia hanya diukur dari angka. Sementara itu, pendidikan karakter dan agama sering menjadi pelengkap formalistik—kering makna, sebatas hafalan ritual tanpa esensi kemanusiaan.
Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara kalkulasi tetapi miskin empati. Fasih berdebat, tetapi gagap mendengar nurani. Ilmu pengetahuan diajarkan seolah bebas nilai, sementara agama dipisahkan dari realitas sosial yang majemuk. Ini bukan kegagalan siswa, melainkan kegagalan sistem.
Pendidikan kehilangan jiwanya ketika hanya menjadi proses transfer pengetahuan, bukan pembentukan manusia utuh. Ilmu tanpa iman akan buta, sementara iman tanpa ilmu menjadi lumpuh.
—
Menyatukan Sains dan Spiritualitas
Hardiknas 2026 harus menjadi titik balik. Sudah saatnya kita menghapus sekat antara sains dan spiritualitas. Pendidikan tidak boleh memisahkan hukum alam dari nilai ketuhanan.
Ketika siswa belajar tentang keteraturan alam semesta, mereka semestinya diajak merasakan kebesaran Tuhan—bukan sekadar menghafal rumus. Ini bukan mencampuradukkan ranah, melainkan mengembalikan kesadaran bahwa ilmu dan iman saling menguatkan.
Namun, integrasi ini bukan berarti “mengagamakan” sains secara dogmatis. Yang dibutuhkan adalah penanaman etika dalam praktik keilmuan. Ilmuwan tanpa iman berpotensi menyalahgunakan ilmu, sementara orang beriman tanpa ilmu sulit memberi solusi nyata.
—
Moderasi Beragama sebagai Fondasi
Masalah lain adalah pendidikan agama yang sering terjebak pada pendekatan eksklusif. Siswa diajarkan cara beribadah, tetapi kurang diajak memahami nilai kasih sayang lintas perbedaan. Akibatnya, agama berpotensi menjadi sumber konflik, bukan perekat kebinekaan.
Di sinilah pentingnya moderasi beragama—mengembangkan sikap tawasut (tengah), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Sekolah harus menjadi laboratorium kebinekaan, tempat siswa belajar bahwa perbedaan adalah rahmat, bukan ancaman.
Jika ruang kelas hanya mempertemukan mereka yang sepemikiran, maka pendidikan telah gagal mempersiapkan realitas Indonesia yang sesungguhnya.
—
Inovasi Kurikulum Berbasis Realitas
Langkah mendesak adalah restrukturisasi kurikulum berbasis penyelesaian masalah nyata. Siswa tidak cukup hanya mendengar ceramah, tetapi harus terlibat dalam problem sosial seperti kemiskinan, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan.
Mereka belajar sains sekaligus nilai etika—misalnya merancang teknologi untuk desa tertinggal sambil memahami bahwa membantu sesama adalah bagian dari ibadah. Di sinilah ilmu dan iman bertemu dalam aksi nyata.
Sinergi antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dan Kementerian Agama Republik Indonesia juga harus diperkuat. Pendidikan umum dan agama tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
—
Peran Guru dan Orang Tua
Guru sebagai ujung tombak perlu dilatih kembali, bukan hanya dalam teknologi, tetapi dalam pedagogi yang mengintegrasikan nilai, ilmu, dan moderasi. Tanpa guru yang holistik, kurikulum holistik hanya akan menjadi dokumen mati.
Di sisi lain, orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter kepada sekolah. Keluarga adalah madrasah pertama. Sekolah dan keluarga harus menjadi mitra dalam menanamkan empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial.
—
Menuju Manusia Indonesia Seutuhnya
Kita tidak ingin Hardiknas hanya menjadi ajang pamer angka kelulusan. Kita butuh bukti bahwa lulusan sekolah adalah pribadi yang cerdas, berakhlak, dan toleran.
Di era kecerdasan buatan, manusia harus unggul pada hal yang tidak dimiliki mesin: empati, nurani, dan kebijaksanaan. Itu hanya bisa lahir dari pendidikan yang menyatukan ilmu dan iman.
Jika pendidikan terus berjalan parsial, kita sedang menanam bom waktu. Sejarah menunjukkan, bangsa runtuh bukan karena bodoh, tetapi karena cerdas tanpa moral.
—
Penutup
Mari jadikan Hardiknas 2026 sebagai momentum kembali ke khitah pendidikan nasional—mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh. Sejalan dengan ajaran Ki Hajar Dewantara, pendidikan harus membangun manusia seimbang antara akal, hati, dan tindakan.
Pendidikan holistik memang jalan panjang, tetapi itulah fondasi menuju Indonesia Emas 2045: bukan sekadar negara maju, tetapi bangsa yang beradab.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. (*).






