Sineas Muda Lampung Digembleng Juri Nasional FFL 2026

Bandarlampung — Semangat industri kreatif perfilman di Lampung terus tumbuh. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Darmajaya Computer & Film Club (DCFC) menggelar Coaching Clinic Festival Film Lampung (FFL) 2026 dengan menghadirkan tiga juri nasional sebagai narasumber di Aula Rektorat Lantai III Gedung H. Alfian Husin, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan yang diikuti 58 peserta dari kalangan mahasiswa dan pegiat perfilman itu menjadi ruang pembelajaran langsung bagi generasi muda Lampung untuk mendalami dunia perfilman dari sisi penyutradaraan, sinematografi, hingga editing film.

Sekretaris Jenderal UKM DCFC, M. Akbar Cesario mengatakan Festival Film Lampung merupakan agenda tahunan yang bertujuan memberikan ruang apresiasi bagi insan perfilman, khususnya generasi muda kreatif di Lampung.

“FFL 2026 merupakan program tahunan UKM DCFC. Kegiatan ini menjadi wadah apresiasi bagi insan perfilman di Indonesia,” ujarnya.

Ketua Pelaksana Coaching Clinic FFL 2026, Furqon Ardhan Khairi menambahkan antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat anak muda Lampung terhadap industri kreatif perfilman yang kini semakin berkembang.

Dalam sesi materi, sutradara dan produser film nasional Johansyah Jumberan membagikan pengalaman panjangnya di industri perfilman sejak 2014. Penulis film Kuyank itu menilai perkembangan bioskop di Lampung menjadi indikator semakin besarnya peluang industri film di daerah.

“Bioskop di Lampung sekarang sudah banyak, ada CGV dan XXI. Itu menunjukkan peluang industri kreatif film semakin terbuka,” katanya.

Johansyah juga membagikan perjalanan kariernya yang penuh tantangan. Ia mengaku sempat mengalami kerugian dalam produksi film selama bertahun-tahun sebelum akhirnya sukses lewat sejumlah film nasional seperti Iblis dalam Kandungan, Saranjana, hingga Kuyank yang berhasil meraih jutaan penonton.

Menurutnya, kekuatan cerita menjadi faktor utama keberhasilan sebuah film, terutama pada lima menit pertama penayangan.

“Lima menit menentukan nasib film ke depan, apakah penonton akan terbawa ke komedi, action, atau emosi cerita yang dibangun,” jelasnya.

Sementara itu, sinematografer Dimas Bagus menekankan bahwa sinematografi bukan sekadar menghasilkan gambar indah, melainkan menjadi bahasa emosional dalam film.

“Sinematografi adalah bagaimana mengubah visual menjadi emosi,” ujarnya.

Ia menjelaskan kualitas sebuah film sebagian besar ditentukan oleh kekuatan cerita atau form, sedangkan aspek visual menjadi elemen pendukung untuk memperkuat emosi dan pesan film kepada penonton.

Editor film Ahmad Yuniar atau Madun juga mengingatkan peserta bahwa kemampuan berpikir kreatif jauh lebih penting dibanding sekadar menguasai perangkat lunak editing.

“Software hanya sebagian kecil dari hasil editing. Yang paling powerful adalah otak kalian, terutama dalam menyampaikan rasa dan emosi sebuah cerita,” katanya.

Melalui Coaching Clinic FFL 2026, UKM DCFC berharap lahir sineas-sineas muda Lampung yang mampu menghasilkan karya film berkualitas dan berdaya saing di tingkat nasional. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *