Sepak Bola Lampung Jangan Terus Menjadi “Penyewa” di Rumah Sendiri
Oleh: Ma’ruf Abidin
Pecinta Sepakbola dan Anggota Sikambara Lampung
Sunyi di tribun stadion adalah alarm paling keras bagi sepak bola Lampung. Tidak ada teriakan, tidak ada gegap gempita, tidak ada nyanyian panjang yang dulu membuat lawan gentar. Yang tersisa hanyalah kursi-kursi kosong dan gema pertanyaan yang semakin menyakitkan: mengapa masyarakat Lampung mulai kehilangan rasa memiliki terhadap klub yang bermain di tanahnya sendiri?
Sepak bola tanpa penonton bukan sekadar pertandingan yang kehilangan atmosfer. Itu adalah pertanda bahwa hubungan emosional antara klub dan rakyatnya mulai mati perlahan. Stadion yang sepi bukan semata soal hasil pertandingan, melainkan tentang identitas yang gagal dibangun.
Hari ini, banyak masyarakat merasa sedang menonton “orang asing” bermain di rumah sendiri. Klub hadir secara profesional, tetapi terasa jauh secara emosional. Manajemen sibuk berbicara target, kontrak, dan strategi bisnis, namun lupa bahwa sepak bola hidup dari rasa memiliki. Klub boleh modern, tetapi tidak boleh kehilangan akar.
Inilah krisis terbesar sepak bola Lampung: identitas yang kabur.
Masyarakat Lampung sebenarnya tidak kekurangan kecintaan terhadap sepak bola. Sejarah telah membuktikan bahwa daerah ini melahirkan banyak talenta besar. Nama seperti Manda Cingi, Dedi Hartono, hingga generasi muda seperti Setya Bagus Zaelani menjadi bukti bahwa Lampung adalah ladang subur pemain berkualitas. Ironisnya, banyak putra daerah justru bersinar di klub lain, dipuja di kota orang, sementara stadion di kampung sendiri kehilangan magnet kebanggaannya.
Padahal, tidak ada yang lebih mampu menghidupkan tribun selain melihat anak daerah sendiri bertarung membawa nama Lampung. Ketika pemain berasal dari Way Kanan, Metro, Tulangbawang, atau Lampung Selatan mencetak gol, yang lahir bukan hanya selebrasi—tetapi rasa bangga kolektif. Itu yang tidak bisa dibeli oleh transfer mahal atau pemain instan.
Sayangnya, manajemen tampak lebih nyaman mengambil jalan cepat. Pemain datang silih berganti tanpa ikatan emosional dengan daerah. Klub dibangun seperti proyek jangka pendek, bukan sebagai warisan identitas masyarakat. Akibatnya jelas: suporter kehilangan alasan untuk mencintai sepenuh hati.
Sepak bola profesional memang membutuhkan uang. Namun, sepak bola sejati dibangun di atas loyalitas. Dan loyalitas tidak pernah lahir dari hubungan yang dingin.
Karena itu, kritik terbesar hari ini bukan soal taktik atau hasil pertandingan, melainkan soal keberanian manajemen untuk percaya pada darah sendiri. Di mana nyali untuk membangun fondasi lokal? Di mana kesungguhan menjadikan masyarakat sebagai bagian dari perjalanan klub, bukan sekadar pembeli tiket?
Jika stadion ingin kembali hidup, maka klub harus kembali ke akar rumput. Manajemen harus turun dari menara eksklusifnya, membuka ruang dialog dengan suporter, hadir di tengah komunitas, dan memberi panggung lebih besar bagi talenta Lampung. Klub harus menjadi simbol harga diri daerah, bukan sekadar tim numpang bermain.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak akan rela berteriak mati-matian untuk sesuatu yang terasa tidak punya hati.
Pilihan kini ada di tangan manajemen sepak bola Lampung: berubah menjadi klub yang dicintai karena identitasnya, atau tetap keras kepala dan perlahan dilupakan sejarah.
Musim depan, stadion harus kembali bergemuruh. Jika tidak, maka kita sedang menyaksikan satu demi satu nyala kebanggaan sepak bola Lampung padam dalam sunyi. (*).






