Lampung Selatan Menebar Undangan kepada Pengusaha Nasional
Tidak semua pembangunan dimulai dari meja rapat, dokumen perencanaan, atau forum resmi yang penuh protokoler. Banyak kemajuan justru lahir dari pertemuan yang hangat, percakapan yang tulus, dan hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan. Pesan inilah yang tampaknya ingin ditegaskan Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, saat menerima para alumni Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Angkatan VI HIPMI di Rumah Dinas Bupati, Selasa (9/6).
Momentum tersebut mungkin terlihat sebagai agenda silaturahmi biasa. Namun di balik suasana kekeluargaan itu tersimpan pesan strategis yang sangat penting: Lampung Selatan sedang membuka pintu selebar-lebarnya bagi investasi dan kolaborasi pembangunan.
Langkah Bupati Egi patut diapresiasi. Di tengah semakin ketatnya persaingan antar daerah dalam menarik investasi, pendekatan personal dan jejaring nasional menjadi aset yang tidak kalah penting dibandingkan insentif fiskal atau kemudahan perizinan. Kehadiran para pengusaha nasional yang tergabung dalam IKAL Lemhannas HIPMI merupakan peluang besar untuk memperkenalkan potensi daerah secara langsung kepada para pengambil keputusan bisnis.
Lampung Selatan memang memiliki modal yang kuat. Posisinya sebagai gerbang Pulau Sumatera menjadikan daerah ini memiliki nilai strategis dalam jalur logistik nasional. Ditambah dengan kekayaan sumber daya alam, lebih dari 90 destinasi wisata, serta hampir 17 ribu pelaku UMKM aktif, daerah ini memiliki fondasi ekonomi yang cukup kokoh untuk tumbuh lebih cepat.
Namun potensi hanya akan menjadi angka dan data apabila tidak mampu diterjemahkan menjadi investasi nyata. Karena itu, ajakan Bupati Egi agar para pengusaha tidak sekadar bernostalgia, tetapi ikut membangun daerah melalui kemitraan konkret, merupakan langkah yang tepat.
Pembangunan daerah saat ini tidak lagi dapat mengandalkan pemerintah sebagai aktor tunggal. Konsep pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media menjadi kebutuhan mutlak. Daerah yang berhasil biasanya adalah daerah yang mampu menghubungkan seluruh elemen tersebut dalam satu visi pembangunan yang sama.
Dalam konteks itu, jejaring alumni Lemhannas HIPMI memiliki nilai strategis. Mereka tidak hanya memiliki kapasitas bisnis, tetapi juga pengalaman kepemimpinan dan jaringan nasional yang dapat membuka akses investasi, pasar, teknologi, hingga sumber daya manusia berkualitas.
Yang perlu dijaga berikutnya adalah kesinambungan dari pertemuan tersebut. Investasi tidak lahir hanya dari presentasi potensi daerah, melainkan dari kepastian regulasi, kemudahan pelayanan, keamanan berusaha, serta komitmen pemerintah daerah dalam mendampingi investor. Oleh sebab itu, silaturahmi harus ditindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret, proposal kerja sama yang jelas, dan proyek-proyek strategis yang siap ditawarkan.
Masyarakat tentu berharap pertemuan di Rumah Dinas Bupati itu bukan sekadar agenda seremonial. Jika jejaring nasional yang hadir mampu diterjemahkan menjadi investasi baru, pengembangan kawasan wisata, perluasan pasar UMKM, hingga penciptaan lapangan kerja, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat Lampung Selatan.
Pada akhirnya, pembangunan daerah adalah soal kemampuan membangun kepercayaan. Dan kepercayaan itulah yang sedang dibangun Lampung Selatan kepada para pengusaha nasional. Dari sebuah silaturahmi, sebuah undangan investasi telah disampaikan. Kini saatnya undangan itu dijawab dengan kolaborasi nyata demi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. (*).






