FOKAL IMM LAMPUNG DESAK INVESTIGASI

Tiga Calon Manajer Koperasi Merah Putih Tewas Saat Latsarmil

BANDARLAMPUNG – Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Lampung menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya tiga calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih saat mengikuti kegiatan Latihan Dasar Semi Militer (Latsarmil). Organisasi alumni tersebut mendesak pemerintah dan instansi terkait segera melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti tragedi yang menimbulkan korban jiwa tersebut.

Ketua Umum FOKAL IMM Lampung, Edi Agus Yanto, menegaskan peristiwa tersebut tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa. Menurutnya, kematian peserta dalam program yang bertujuan menyiapkan sumber daya manusia desa merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian dan pertanggungjawaban yang jelas.

“Kami turut berduka cita yang mendalam atas meninggalnya para calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih saat mengikuti kegiatan Latsarmil. Peristiwa ini tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa, melainkan harus menjadi perhatian serius seluruh pihak yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan tersebut,” tegas Edi Agus Yanto dalam pernyataan resminya, Kamis (25/6).

FOKAL IMM meminta pemerintah membuka proses investigasi yang transparan, independen, dan objektif agar publik memperoleh penjelasan utuh mengenai penyebab meninggalnya para peserta.

Menurut Edi, aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap program pemerintah, termasuk pelatihan yang ditujukan untuk mencetak pengelola koperasi desa yang profesional.

“Publik berhak mengetahui apakah standar operasional, aspek kesehatan, kelayakan materi pelatihan, serta mekanisme pengawasan telah dijalankan dengan benar. Jika ditemukan adanya kelalaian atau pelanggaran prosedur, maka harus ada pertanggungjawaban yang jelas sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Ia juga menyoroti substansi pelatihan yang dinilai perlu disesuaikan dengan kebutuhan jabatan yang akan diemban peserta. Menurutnya, posisi Manajer Koperasi Desa Merah Putih merupakan jabatan sipil yang lebih menitikberatkan pada kemampuan manajerial, pengetahuan ekonomi, dan tata kelola kelembagaan, bukan kemampuan fisik layaknya proses seleksi militer.

“Manajer Koperasi Merah Putih tentu berbeda dengan proses seleksi militer. Tidak bisa disamakan, karena jabatan manajer adalah jabatan sipil yang mengutamakan keilmuan, kapasitas manajerial, dan kompetensi profesional, bukan fisik semata,” katanya.

FOKAL IMM Lampung juga meminta pemerintah melakukan evaluasi total terhadap pola dan metode pelatihan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

“Semoga cukup tiga nyawa melayang, jangan sampai ada korban berikutnya. Semangat membangun desa tidak boleh dibayar dengan hilangnya nyawa peserta. Negara wajib memastikan setiap program berjalan efektif, profesional, dan mengedepankan keselamatan manusia sebagai prioritas utama,” tegas Edi.

Menurut FOKAL IMM, tragedi ini harus menjadi momentum perbaikan menyeluruh terhadap desain pelatihan yang melibatkan masyarakat sipil. Organisasi tersebut menilai keberhasilan program pembangunan desa tidak hanya diukur dari target yang dicapai, tetapi juga dari kemampuan negara melindungi keselamatan setiap peserta yang terlibat.

Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu hasil investigasi resmi dari pihak berwenang terkait penyebab meninggalnya para calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih dalam kegiatan Latsarmil tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *